Rupiah terdampak dan tercatat melemah, bahkan sempat menyentuh level di atas Rp17.000 per dolar AS di pasar non-deliverable forward (NDF).
Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal, menciptakan ketidakpastian yang membayangi stabilitas mata uang Indonesia.
Melansir Antara, kekhawatiran pasar terhadap dampak kebijakan tarif impor AS dan ketegangan geopolitik seperti konflik di Timur Tengah dan Ukraina, menjadi pemicu utama tekanan terhadap rupiah.
Di sisi domestik, dinamika ekonomi Indonesia juga turut memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Pemerintah dan Bank Indonesia terus berupaya menstabilkan rupiah melalui berbagai kebijakan moneter dan langkah negosiasi dengan AS.
Namun, kekhawatiran pasar tetap tinggi, mencerminkan kompleksitas tantangan yang dihadapi dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah gejolak global.
Sebenarnya, apa saja hal yang mampu mempengaruhi nilai tukar dan bagaimana dampaknya pada rupiah?
Untuk itu, simak tujuh faktor utama yang memengaruhi dan dampaknya pada perekonomian:
1. Kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat
Kebijakan tarif yang ditetapkan oleh Amerika Serikat (AS) dan respons negatif dari berbagai negara yang terdampak menciptakan ketidakpastian di pasar global.
Kekhawatiran akan perang dagang dan perlambatan ekonomi global mendorong investor untuk beralih ke aset yang lebih aman, yang pada gilirannya menekan nilai tukar rupiah.
2. Kekuatan ekonomi Amerika Serikat
Kembali melansir Antara, data tenaga kerja nonfarm payrolls AS yang lebih baik dari perkiraan mengindikasikan kekuatan ekonomi mereka.
Hal ini meningkatkan daya tarik dolar AS sebagai aset yang aman, sehingga memberikan tekanan pada rupiah.
3. Ketegangan geopolitik
Konflik di Timur Tengah dan Ukraina menciptakan ketidakpastian di pasar global. Ketegangan yang terjadi meningkatkan permintaan akan aset aman seperti dolar AS, yang menekan nilai tukar rupiah.
4. Penawaran dan permintaan dolar AS
Melansir Investopedia.com, ekonomi AS yang kuat menarik investasi global menciptakan permintaan tinggi terhadap dolar.
Ekspor dan pembelian aset yang terjadi oleh investor asing akan meningkatkan permintaan dolar AS.
5. Sentimen pasar
Sentimen pasar yang dipengaruhi oleh analisis bank investasi dan perusahaan manajemen aset, dapat memengaruhi nilai dolar AS.
Sentimen negatif pun dapat memicu aksi jual dolar AS, sementara sentimen positif akan mendorong permintaan terhadap dolar.
6. Dampak pada eksportir dan importir
Melansir Cermati.com, melemahnya rupiah bisa menguntungkan eksportir karena produk Indonesia menjadi lebih murah bagi pembeli asing.
Namun, importir akan menghadapi biaya impor yang lebih tinggi dan menyebabkan kenaikan harga barang impor.
Kebijakan tarif Amerika Serikat, ketegangan geopolitik dan data ekonomi menjadi faktor eksternal yang memberikan tekanan pada rupiah.
Di lain sisi, faktor domestik seperti inflasi, suku bunga dan kondisi perdagangan memainkan peran penting.
Demikian, pemerintah dan Bank Indonesia perlu mengambil langkah tepat untuk meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif dari fluktuasi nilai tukar rupiah. (jpg/smi)
Editor : Nurismi