BerauPost - Baru-baru ini viral video yang memperlihatkan bahwa Minyak Goreng Rakyat (MGR) dengan merek Minyakita disunat takarannya oleh produsen.
Dugaan takaran Minyakita tidak sesuai itu disebar oleh masyarakat di media sosial dan menjadi viral.
Dalam video itu disebutkan Minyakita yang tertera dalam kemasan berisi satu liter ternyata saat dituang ke gelas takar hanya berisi 750 ml.
Temuan ini menambah kekecewaan masyarakat. Negara dianggap selalu membohongi rakyat. Apalagi belum lama ini kasus Pertamax oplosan.
Atas video viral itu, Menteri Pertanian(Mentan) Andi Amran Sulaimanmelakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Lenteng Agung, Jakarta, Sabtu (8/3).
Dalam sidak itu, Mentan Amran menemukan produk minyak goreng kemasan bersubsidi Minyakita tidak hanya dicurangi timbangannya. Minyakita dijual lebih mahal alias di atas harga eceran tertinggi (HET).
Selain itu, dilihat dari video yang dibagikan warganet di X, Mentan Amran juga melakukan pengecekan volume Minyakita.
Dalam sidak tersebut, Mentan Amran menemukan kalau Minyakita kemasan yang seharusnya berisi 1 liter ternyata hanya memiliki volume 750 hingga 800 mililiter.
"Kami turun langsung ke pasar untuk memastikan pasokan dan kualitas pangan, salah satunya minyak goreng bagi masyarakat, tetapi justru menemukan pelanggaran. MinyaKita dijual di atas HET, dari seharusnya Rp 15.700 menjadi Rp 18.000," ujar Mentan Amran dari video yang viral.
Amran menegaskan, Minyakita yang tak sesuai takaran merupakan bentuk kecurangan yang merugikan rakyat.
Padahal di bulan Ramadan ini banyak orang sibuk mencari pahala. Sementara produsen minyakkita malah mencari dosa.
"Tapi saudara kita ini (produsen Minyakita) malah mencetak dosa di bulan suci Ramadhan. Jadi kami minta, ada PT nya nih PT Artha Eka Global Asia, kami minta diproses, kalau terbukti, ditutup!" tegas Mentan Amran.
Praktik culas tersebut juga dikatakan Mentan Amran merugikan masyarakat Indonesia. Apalagi banyak masyarakat saat ini sedang berpuasa.
"Di sini (kemasan Minyakita) tertulis satu liter, tapi hanya 0,7 sampai 0,8 liter. Ini merugikan masyarakat," pungkasnya. (jpg/smi)
Editor : Nurismi