Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Strategi Jitu BSI: Transaksi Digital, Emas, dan Pembiayaan Jadi Andalan di 2025

Beraupost • Jumat, 7 Februari 2025 | 13:05 WIB
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) fokus bisnis transaksi perbankan, emas, dan pembiayaan berkualitas. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) fokus bisnis transaksi perbankan, emas, dan pembiayaan berkualitas. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

BerauPost - Transaksi perbankanemas, dan pembiayaan berkualitas menjadi fokus bisnis PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) di 2025. Sejumlah infrastruktur sudah disiapkan untuk optimalisasi layanan ritel maupun korporasi. Sehingga mampu bersaing dalam penghimpunan dana murah.

Transactional banking itu adalah engine untuk mendapatkan funding murah atau low-cost fund. Jadi apa yang harus kita lakukan adalah kita akan memperluas jangkauan ATM. Tahun lalu, jumlah ATM sudah 5 ribu, mungkin kita akan tambah,” kata Direktur Utama BSI Hery Gunardi dalam paparan kinerja 2024 di kantornya, Kamis (6/2).

Kemudian, meningkatkan pengguna aplikasi BYOND, memperbanyak merchant QRIS, dan pemasangan mesin electronic data capture (EDC) di merchant terpilih. BSI juga tengah menyiapkan aplikasi untuk cash management untuk transactional banking wholesale yang akan diluncurkan dalam waktu dekat.

Hery menyatakan, BSI terus menggenjot potensi bisnis model yang baru. Yakni bisnis berbasis emas, tabungan haji, bancassurance, dan bisnis treasury.

”Kita baru saja tanda tangan dengan Prudential Life Syariah untuk menjual produk-produk asuransi yang kita namakan banccansurance and treasury. Tahun ini juga terus mendorong capability untuk priority banking atau wealth management yang sudah mulai kelihatan mendatangkan bisnis bagi BSI,” jelas Hery Gunardi.

Di tengah ketatnya kompetisi likuiditas sektor perbankan, BSI mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 11,46 persen year-on-year (YoY) menjadi Rp 327,45 triliun. Ditopang oleh dana murah atau current account savings account (CASA) yang mencapai rasio 60,12 persen dari total DPK. Dengan nilai mencapai Rp 197 triliun atau naik 10,65 persen YoY.

Tercatat, DPK BSI dari produk-produk tabungan sebesar Rp 140,53 triliun. Disusul deposito Rp 130,58 triliun dan giro Rp 56,33 triliun. Pengelolaan DPK yang tepat memberikan dampak positif pada penurunan beban bagi hasil.

”Kami mengambil peluang dengan memanfaatkan potensi Islamic ecosystem yang hanya dimiliki bank syariah. Salah satunya lewat bisnis emas dan haji. Inovasi dan transformasi digital yang memudahkan transaksi secara digital juga turut berdampak positif terhadap penghimpunan DPK,” terang Hery.

Dari sisi pembiayaan, saat ini tetap fokus menumbuhkan pembiayaan konsumer. Khususnya griya dan mitra guna. Pada 2024, BSI menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 278,48 triliun, tumbuh 15,88 persen YoY.

Segmen wholesale mencapai Rp 77,22 triliun atau naik 14,38 persen YoY. Kemudian, segmen ritel senilai Rp 49,38 triliun, meningkat 16,86 persen YoY. Selain itu, pembiayaan untuk segmen konsumer tumbuh 16,34 persen sebanyak Rp 151,88 triliun. Secara kualitas, rasio pembiayaan bermasalah alias non-performing financing (NPF) gross BSI menjadi 1,9 persen. Dengan cost of credit (CoC) perseroan di level 0,83 persen per akhir 2024.

”Peningkatan kualitas pembiayaan akan tetap dipertahankan. Artinya kami menjaga kualitas itu untuk mencegah peningkatan dari sisi biaya CKPN. NPF gross mungkin one of the lowest in the market,” tandas Hery Gunardi.

Direktur Sales and Distribution BSI Anton Sukarna menyampaikan bahwa sektor transaksi akan menjadi fokus utama bagi BSI. Seiring dengan penguatan infrastruktur yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya.

”Yang kami harapkan juga sudah bisa diamplifikasi dan dioptimalkan growthnya di 2025 ini,” ungkap Anton Sukarna.

Pengembangan transaksi BSI terus berjalan melalui penguatan risiko dan implementasi yang matang. Selain itu, memperkuat jaringan agen yang diharapkan dapat memperluas jangkauan layanan. Sehingga, transaksi tahun ini akan jauh lebih banyak lagi.

”Karena kita juga sudah memiliki engine untuk menerima transaksi-transaksi yang sifatnya bisnis dari masyarakat,” kata Anton Sukarna.

Menurut dia, BSI memiliki keunggulan dalam sumber dana murah. Terutama tabungan haji dan produk-produk berbasis ekosistem syariah. Produk ini menjadi salah satu faktor penting yang membedakan BSI dari bank konvensional.

Dengan demikian, BSI berhasil menjaga momentum pertumbuhan kinerja positif dengan mencetak laba bersih mencapai Rp 7,01 triliun. Tumbuh dobel digit 22,83 persen secara tahunan. (jpg/smi)

Editor : Nurismi
#perbankan #transaksi digital