TANJUNG REDEB – Kepala Dinas Pangan Berau, Rakhmadi Pasarakan meminta masyarakat untuk mulai menanam cabai dan tomat untuk pengendalian inflasi. Pasalnya, dua komoditas tersebut banyak menjadi penyumbang inflasi secara nasional.
Dikatakannya, hal itu secara tidak langsung itu akan menghemat pengeluaran bagi keluarga. Apalagi komoditas cabai cepat sekali mengalami perubahan harga baik naik atau turun. Sehingga, kesulitan untuk mengintervensi harganya.
“Berbeda dengan komoditas beras yang cenderung stabil, jadi lebih bisa mudah diintervensi. Kalau cabai jangka pendek jadi sulit diintervensi,” jelasnya.
Gerakan tanam cabai dan tomat tersebut perlu digalak sejak dini hingga ke kampung-kampung. Agar tidak banyak bergantung pada cabai dari luar daerah. Makanya perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kerawanan pasokan dan stabilitas harga.
“Urban farming ini harus digalakkan. Tidak hanya di lingkungan masyarakat saja, tapi juga perkantoran,” terangnya.
“Tomat juga saat ini mulai banyak menyumbang inflasi di daerah-daerah lain. Jadi perlu kami waspadai juga,” bebernya.
Meski terlihat sepele, namun gerakan tanam cabai dan tomat ini dampaknya cukup besar untuk mengendalikan inflasi di daerah. Bahkan hingga berdampak ke perekonomian dan pelaku UMKM di Kabupaten Berau.
“Memang saat ini dampak inflasi belum terlalu terasa di Berau. Itu karena kita belum melakukan pencatatan pasti dampak inflasi di daerah kita,” kata Rakhmadi.
“Karena rencananya baru tahun ini Berau akan memulai pencatatan indeks harga konsumsi dan lainnya,” tambahnya.
Selain itu, untuk menekan inflasi pihaknya juga mengimbau untuk mulai menanam hidroponik. Itu dicontohkan dengan menanam sayur hidroponik di depan kantor Dinas Pangan itu sendiri. Pun akan terus melakukan upaya-upaya pendampingan dan dukungan ke kampung-kampung terkait pengembangan tanaman hidroponik.
Tahun ini rencananya kami akan membina Kelompok Wanita Tani (KWT) di Pulau Maratua untuk mengembangkan hidroponik. Harapannya kebutuhan sayuran mereka tidak lagi bergantung di Tanjung Redeb. Pasalnya dana desa di sana juga akan dialokasikan sebagian untuk pengembangan hidroponik.
“Mudah-mudahan kebutuhan sayur di Maratua tidak bergantung lagi dari Tanjung Redeb,” harapnya. (*/aja/arp)