BERAU POST - Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan tuberkulosis (TBC) dengan memperluas jangkauan pemeriksaan kesehatan hingga ke lingkungan pemasyarakatan.
Langkah tersebut diwujudkan melalui pembukaan kegiatan Tracing TBC Terintegrasi Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Lapas Kelas IIA Bontang oleh Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni, Selasa (20/10).
Kegiatan yang dilaksanakan Dinas Kesehatan Kota Bontang bersama Lapas Kelas IIA Bontang di Jalan Prestasi, Kelurahan Bontang Lestari, tersebut mendapat pendampingan pemeriksaan menggunakan X-Ray Portable dari Kementerian Kesehatan.
Program ini menjadi bagian dari upaya memperluas penemuan kasus sekaligus mencegah penularan TBC di lingkungan dengan tingkat interaksi dan kepadatan penghuni yang tinggi.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menegaskan, akses terhadap pelayanan kesehatan harus diberikan secara merata tanpa membedakan latar belakang maupun status seseorang.
Warga binaan pemasyarakatan tetap memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan kesehatan.
“Pemeriksaan kesehatan ini penting untuk mendeteksi penyakit sejak dini, terutama tuberkulosis yang dapat menular melalui udara,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan Dinas Kesehatan, Kementerian Kesehatan, jajaran lapas, serta tenaga medis dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
Terlebih penanggulangan TBC tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan, tetapi membutuhkan upaya bersama melalui pemeriksaan dini, penemuan kasus aktif, hingga memastikan pasien menuntaskan terapi.
“Penanggulangan TBC membutuhkan kerja sama semua pihak, mulai dari deteksi dini hingga memastikan pasien menuntaskan pengobatan,” timpalnya.
Sementara itu, berdasarkan laporan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, hingga Triwulan III 2026 terdapat tiga kasus TBC dari 48 orang terduga di Lapas Kelas IIA Bontang. Ketiga pasien tersebut telah memulai pengobatan.
"Data ini menjadi salah satu dasar pentingnya skrining berkala untuk mengidentifikasi kasus sedini mungkin," terangnya.
Toetoek menjelaskan, penanggulangan TBC merupakan salah satu program prioritas nasional dalam mendukung target eliminasi TBC pada 2030.
Pemeriksaan terintegrasi di lapas mencakup penelusuran gejala, pemeriksaan rontgen dada menggunakan X-Ray Portable, serta layanan CKG bagi warga binaan dan petugas.
“Melalui skrining terintegrasi ini, kami berupaya meningkatkan penemuan kasus sekaligus memperkuat pencegahan penularan, khususnya di lingkungan pemasyarakatan,” ucapnya.
Kota Bontang sendiri memperoleh alokasi 73 lokus skrining TBC terintegrasi CKG. Dari jumlah tersebut, sebanyak 29 lokus mendapatkan pendampingan pemeriksaan menggunakan X-Ray Portable, sedangkan 44 lokus lainnya melaksanakan skrining berdasarkan gejala.
"Lapas Kelas IIA Bontang menjadi lokus pertama di Bontang yang memperoleh pendampingan pemeriksaan dengan perangkat tersebut," jelas Toetoek.
Untuk memperkuat penegakan diagnosis, Dinas Kesehatan juga mendapat dukungan satu unit X-Ray Portable dan lima unit alat tes molekuler cepat yang diperuntukkan bagi puskesmas.
Dukungan sarana ini diharapkan membantu tenaga kesehatan mempercepat pemeriksaan lanjutan terhadap masyarakat yang terindikasi mengalami TBC.
Adapun, capaian pengobatan TBC di Kota Bontang yang disampaikan dalam kegiatan tersebut berada di kisaran 94 persen.
Angka itu diharapkan terus meningkat melalui perluasan skrining, penemuan kasus secara aktif, serta pendampingan pasien agar menjalani pengobatan sampai selesai.
"Kami berupaya memastikan deteksi dini TBC semakin optimal. Upaya tersebut sekaligus menjadi bentuk komitmen menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih inklusif dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat," timpal Toetoek.(adv/arp)
Editor : Nurismi