BERAU POST – Sepak bola daerah yang berdaya saing dan mandiri tengah dibangun secara strategis oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang.
Pengembangan klub tidak hanya diarahkan pada pencapaian prestasi, tetapi juga pembentukan sistem industri olahraga yang mampu menopang pembiayaan secara berkelanjutan.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris mengatakan, pengembangan sepak bola membutuhkan perencanaan matang, dukungan anggaran yang terukur, serta keterlibatan berbagai pihak.
Pemerintah harus memastikan kemampuan keuangan daerah sebelum mengambil langkah besar dalam membiayai operasional klub.
“Kita harus rasional dan realistis. Sementara ini kita pasif dulu sambil menunggu kondisi APBD stabil,” tuturnya.
“Begitu APBD membaik, kita hitung secara detail dan komprehensif mulai dari pembiayaan operasional hingga pelaksanaan turnamen dalam setahun,” sambung Haris, Senin (5/10) lalu.
Ia menegaskan, pembentukan klub profesional tidak bisa hanya bergantung pada suntikan dana pemerintah maupun bantuan perusahaan.
Karena itu, Pemkot Bontang mulai mempertimbangkan model bisnis yang memungkinkan klub memiliki sumber pemasukan sendiri.
Salah satu upaya yang disiapkan ialah mengembangkan penjualan merchandise dan memperkuat identitas atau branding klub.
Produk seperti jersey dinilai berpotensi menjadi sumber pendapatan untuk mendukung kebutuhan tim sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan daerah.
Ia mengungkapkan, rancangan awal pemasaran jersey menyasar sekitar 5.000 ASN/PNS serta puluhan ribu karyawan perusahaan swasta di Bontang.
“Kemarin kami sudah coba rancang desain jersey (apparel) yang berkualitas. Langkah awalnya sederhana namun realistis. Hasil penjualannya bisa membiayai operasional tim dan menambah PAD. Ini jadi modal awal kemandirian klub,” jelasnya.
Melalui skema tersebut, Pemkot berharap pengelolaan klub dapat berkembang secara profesional dengan dukungan pasar dan partisipasi masyarakat.
Dengan sumber pendapatan alternatif, ketergantungan terhadap anggaran pemerintah diharapkan dapat dikurangi secara bertahap.
Di samping penguatan pembiayaan, Pemkot Bontang juga membuka peluang mengakuisisi atau membeli lisensi klub dari luar daerah untuk mempercepat keikutsertaan dalam kompetisi resmi.
Kendati begitu, opsi tersebut tidak akan menggeser fokus utama pemerintah terhadap pembinaan pemain lokal.
Ia menilai, pembangunan sepak bola daerah harus dimulai dari pengembangan talenta sejak usia dini.
Pembinaan yang dilakukan secara berjenjang dinilai menjadi fondasi penting untuk membentuk pemain berkualitas, karakter tim, dan kekompakan dalam jangka panjang.
“Jujur, saya maunya kita utamakan dulu pemain-pemain lokal Bontang. Kita ikuti proses kompetisi secara berjenjang,” ucapnya.
“Rahasia kekuatan tim-tim besar terletak pada pembinaan berkelanjutan sejak usia dini, mulai anak-anak, remaja, hingga jenjang profesional,” tambahnya.
Lanjutnya, keberhasilan membangun tim yang kuat tidak cukup diukur dari kemampuan merekrut pemain, tetapi juga dari konsistensi dalam menyiapkan generasi penerus.
Karena itu, pembinaan lokal perlu menjadi bagian utama dari sistem sepak bola yang tengah dirancang Pemkot Bontang.
Sementara itu, dinamika kepengurusan Asosiasi Kota (Askot) PSSI Bontang yang sempat memasuki masa transisi tidak menghentikan upaya pemetaan potensi pemain muda. Pemerintah memastikan proses penjaringan bakat tetap berjalan di berbagai wilayah.
Tim khusus telah diterjunkan untuk memantau pemain potensial di tingkat kelurahan. Langkah ini dilakukan agar Bontang memiliki basis data talenta muda yang dapat dikembangkan ketika kesiapan anggaran dan organisasi telah terpenuhi.
“Kita siapkan jalurnya dari sekarang. Begitu momentum anggaran dan keorganisasian siap, program ini langsung berjalan optimal untuk membawa nama Kota Bontang kembali berkibar di kancah sepak bola nasional,” pungkas Agus Haris.(adv/arp)
Editor : Nurismi