Tanpa Anggaran DPA, Gebyar Literasi Kota Bontang 2026 Sukses Digelar Lewat Kolaborasi

Nurismi • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 06:05 WIB
KOLABORASI: Gelaran Gebyar Literasi Kota Bontang 2026 yang berlangsung pada 8–18 Oktober dengan menghadirkan beragam kegiatan edukatif, pameran buku, diskusi, hingga aktivitas literasi anak dan keluarga.
KOLABORASI: Gelaran Gebyar Literasi Kota Bontang 2026 yang berlangsung pada 8–18 Oktober dengan menghadirkan beragam kegiatan edukatif, pameran buku, diskusi, hingga aktivitas literasi anak dan keluarga.
BERAU POST – Penguatan budaya literasi melalui kolaborasi pemerintah, komunitas, penerbit, dunia usaha, dan masyarakat tengah dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang. 
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Gebyar Literasi Kota Bontang 2026 yang berlangsung pada 8–18 Oktober dengan menghadirkan beragam kegiatan edukatif, pameran buku, diskusi, hingga aktivitas literasi anak dan keluarga.
Kegiatan yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Bontang ini menjadi bagian dari upaya memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-27 Kota Bontang.
Menariknya, seluruh rangkaian kegiatan diselenggarakan tanpa alokasi anggaran khusus dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) DPK Bontang, melainkan melalui dukungan dan kolaborasi berbagai pihak.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni yang diwakili Staf Ahli Bidang Pembangunan Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM), Lukman menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci untuk membangun ekosistem literasi yang inklusif, kreatif, dan berkelanjutan.
“Atas nama Pemerintah Kota Bontang, terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya saya sampaikan kepada GPMB Provinsi Kalimantan Timur, DPK Provinsi Kalimantan Timur, DPK Kota Bontang, para penerbit, komunitas, panitia, serta seluruh relawan yang telah bekerja keras,” ujar Lukman, Jumat (9/10).
Ia menegaskan, penguatan literasi semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital yang tidak seluruhnya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Masyarakat membutuhkan kemampuan memilah informasi agar tidak mudah terpengaruh berita bohong, disinformasi, maupun ujaran kebencian.
“Di era digitalisasi saat ini, arus informasi sangat deras dan begitu mudah didapat, tetapi tidak semuanya benar,” katanya.
“Literasi yang kuat adalah benteng kita agar masyarakat tidak mudah termakan hoaks, disinformasi, dan ujaran-ujaran kebencian,” sambung Lukman.
Ia menuturkan, keberadaan perpustakaan harus terus dikembangkan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat dari berbagai kelompok usia.
Tidak hanya menjadi tempat mengakses buku, perpustakaan juga diharapkan menjadi ruang belajar, berdiskusi, dan mengembangkan gagasan.
Ia mencontohkan upaya DPK Bontang yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memanfaatkan layanan perpustakaan pada malam hari.
Langkah ini dinilai memberikan alternatif bagi warga yang bekerja pada siang hari, tetapi tetap ingin menambah pengetahuan dan memperoleh informasi.
Lukman juga mengajak para orang tua membangun kebiasaan membaca di lingkungan keluarga. Budaya literasi tidak cukup hanya ditumbuhkan melalui kegiatan formal, tetapi perlu dibangun melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten di rumah.
“Jangan biarkan buku hanya menjadi pajangan. Buka bukunya, baca bersama, dan diskusikan agar menjadi sumber inspirasi,” pesannya.
Sementara itu, dalam laporannya Kepala DPK Kota Bontang, Retno Febriaryanti menjelaskan Gebyar Literasi 2026 berlangsung selama 11 hari, pukul 08.00 hingga 21.00 Wita.
Beragam agenda disiapkan, mulai dari pameran buku, talkshow, seminar, diskusi literasi, hingga kegiatan edukatif dan kreatif bagi anak-anak.
Antusiasme masyarakat pun terlihat sejak soft launching yang dikunjungi sekitar 600 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 450 pengunjung melakukan transaksi pembelian buku dengan nilai lebih dari Rp30 juta.
Salah satu agenda utama ialah pameran buku bertajuk Out of the Box yang melibatkan lebih dari 100 penerbit. Pengunjung dapat menikmati diskon hingga 50 persen, paket bundling, serta promo Rp100 ribu untuk 14 buku.
Kegiatan juga dilengkapi bedah buku, membaca nyaring, mendongeng, menggambar, mewarnai, dan berbagai aktivitas bersama komunitas.
Ia mengungkapkan, kegiatan tahun ini tidak memiliki anggaran khusus dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA). Namun, dukungan pemerintah daerah, komunitas, penerbit, dan berbagai pihak.
“Pelaksanaan Gebyar Literasi Kota Bontang tahun ini tidak menggunakan anggaran khusus. Namun, alhamdulillah, kegiatan ini didukung melalui kolaborasi Pemerintah Kota Bontang, Bunda Literasi Kota Bontang, GPMB Provinsi Kalimantan Timur, DPK Provinsi Kalimantan Timur, penerbit, komunitas, dan berbagai pihak lainnya,” jelasnya.
Menurut Retno, kolaborasi menjadi kunci untuk memperluas jangkauan gerakan literasi di Bontang. Pemerintah membutuhkan dukungan komunitas, sekolah, keluarga, serta Bunda Literasi di tingkat kecamatan dan kelurahan untuk meningkatkan minat baca masyarakat.
“Semangat kita sama untuk meningkatkan literasi Kota Bontang. Kami tidak akan bisa maju dan bergerak meningkatkan literasi tanpa bantuan komunitas serta Bunda Literasi di tingkat kecamatan dan kelurahan,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua GPMB Provinsi Kalimantan Timur, Syafruddin Pernyata menilai kolaborasi mampu menghadirkan program berskala besar meskipun tanpa anggaran khusus.
“Kalau ada orang yang hebat dan mampu berkolaborasi seperti yang kita saksikan hari ini, tidak ada uang dalam anggaran tetapi bisa menghadirkan sesuatu yang luar biasa dan membanggakan,” ujar Syafruddin.(adv/arp) 

 

Editor : Nurismi
literasi pemkot bontang