Launching Inovasi Cantik, Kanaan Ditarget Zero Stunting dalam 56 Hari

Nurismi • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 07:10 WIB
TEKAN STUNTING: Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni saat menghadiri acara peluncuran Inovasi Cantik di Kelurahan Kanaan, Kamis (1/10).
TEKAN STUNTING: Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni saat menghadiri acara peluncuran Inovasi Cantik di Kelurahan Kanaan, Kamis (1/10).

BERAU POST - Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang meluncurkan program Inovasi Cantik (Cegah dan Tangani Stunting) di Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat, Kamis (1/10).

Program ini menjadi salah satu upaya mempercepat penanganan stunting dengan target menekan kasus hingga mencapai zero stunting. 

Peluncuran Inovasi Cantik ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama lintas sektor. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peninjauan Pelatihan Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) bagi kader posyandu.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni mengatakan, Kelurahan Kanaan memiliki angka stunting relatif rendah dibandingkan sejumlah wilayah lainnya. Berdasarkan data yang disampaikannya, prevalensi stunting di Kanaan berada di angka 7,8 persen.

“Penanggulangan stunting di Kanaan termasuk kelurahan yang paling kecil stunting-nya di Kota Bontang, satu digit, 7,8 persen,” ujar Neni.

Kondisi tersebut, menurut Neni, harus menjadi momentum untuk mempercepat intervensi agar tidak ada lagi balita yang mengalami stunting. Pemerintah menargetkan hasil intervensi dapat terlihat dalam 56 hari pelaksanaan program.

“Saya berharap nanti stunting di Kanaan ini target minimal 5 persen kalau bisa zero,” tegasnya.

Intervensi Inovasi Cantik tidak hanya menyasar balita, tetapi juga remaja, ibu hamil, dan ibu menyusui. Pendekatan tersebut dilakukan karena pencegahan stunting perlu dimulai sejak sebelum kehamilan hingga masa tumbuh kembang anak.

Pelaksanaan program juga melibatkan berbagai pihak, termasuk sektor swasta melalui kerja sama dengan PT Kaltim Parna Industri (KPI) serta BNNK Bontang. 

Menurut Neni, kolaborasi lintas sektor diperlukan agar penanganan stunting dapat dilakukan secara terpadu.

“Penanganan masalah kesehatan dan sosial ini harus dikeroyok bersama. Saya mengucapkan terima kasih kepada perusahaan-perusahaan di Bontang, seperti PT KPI, yang sudah ikut turun tangan,” katanya.

Selain intervensi khusus, ia menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat memperkuat pemenuhan kebutuhan gizi kelompok rentan. Program tersebut juga menyasar balita dan ibu hamil.

Namun, penanganan stunting tidak cukup hanya melalui pemberian makanan bergizi. Edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja, pencegahan kehamilan dini, serta perbaikan sanitasi lingkungan juga dinilai penting dalam upaya pencegahan.

Neni meminta jajaran kelurahan turut memperhatikan kondisi lingkungan masyarakat, termasuk kawasan peternakan yang berpotensi menjadi sumber penyakit infeksi. Lingkungan yang sehat menjadi salah satu faktor pendukung tumbuh kembang anak.

Dirinya juga mengingatkan tenaga kesehatan agar melakukan pendataan dan diagnosis stunting secara cermat dengan mempertimbangkan kondisi fisik serta faktor genetik anak.

“Stunting itu pasti pendek, tapi tidak semua anak pendek itu stunting. Lihat juga genetik atau postur orang tuanya,” jelasnya.(adv/arp) 

Editor : Nurismi
stunting pemkot bontang