Kangen Gado-Gado Legendaris Toping Udang Galah Teluk Bayur, Eks Wali Kota Balikpapan Sambangi Berau

Nurismi • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 18:25 WIB
MENUNGGU PESANAN: Saya dan Rizal Effendi di warung gado-gado Bu Surati Teluk Bayur hari Jumat lalu. (DOK PRIBADI)
MENUNGGU PESANAN: Saya dan Rizal Effendi di warung gado-gado Bu Surati Teluk Bayur hari Jumat lalu. (DOK PRIBADI)

GADO-GADO Teluk Bayur punya cerita tersendiri. Sudah ada sejak 50 tahun lalu. Yang jualan pun generasinya sudah berganti.

Lokasinya di pojok jalan kecil menuju penyeberangan perahu. Warungnya sederhana. Rumah kayu yang juga usianya sama dengan rumah sekitarnya.

Tak jauh dari tempat itu, masih terlihat bangunan tua yang masih kokoh berdiri. Bangunan yang kabarnya seusia dengan kegiatan penambangan batu bara di Teluk Bayur.

Ada yang unik dari tampilan penjualan gado-gado. Beda dengan tampilan penjual gado-gado umumnya.
Yang menarik, topingnya dihadirkan satu ekor udang galah goreng. Ini yang jadi ciri gado-gado Teluk Bayur sejak lama.

Entah kapan mantan Walikota Balikpapan Rizal Effendi, pertama kali mencicipi gado-gado itu. Sekali waktu, Pak Rizal menelepon. Hanya satu pertanyaannya. Masih adakah penjual gado-gado itu di Teluk Bayur?

Hari Jumat pagi, Pak Rizal menelepon lagi. Saya berfikir, apakah ada pertanyaan lain. Apakah mau bertanya soal gado-gado lagi? Atau jangan-jangan mau ke Pulau Maratua?

Sebelum salat Jumat, kita ke Teluk Bayur ya? Kalimat singkat lewat telepon. Jemput saya di Hotel SM Tower, tambahnya. Rupanya beliau sedang berada di Tanjung Redeb.

5 menit sebelum jam 10, saya sudah tiba di halaman parkir. Pak Rizal sudah siap-siap. OK, kita langsung ke Teluk Bayur.

Kami berceritalah. Cerita lama. Ketika sama-sama melakukan kegiatan liputan, saat pabrik Pulp Kiani Kertas diresmikan Presiden Soeharto. Sekarang kabarnya akan diambil alih Haji Isam ya? Tanyanya.

Setelah tak lagi jadi walikota. Rizal Effendi, kembali ke dunia lamanya. Menulis banyak hal yang dia lihat dan rasakan. Bisa jadi, kunjungan ke Berau itu dalam rangka melengkapi tulisannya.

Ketika masih menjabat sebagai pemimpin redaksi di ManuntunG, saya betugas koresponden di Berau. Sebagai komandan, beberapa kali saya mendapat kartu kuning. Hahaha.

Berteman bukan saat sama-sama di SKH ManuntunG. Saya dan Pak Rizal sudah akrab sejak kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Mulawarman, Jalan Flores di Samarinda.

Pakai udang, lontongnya tidak usah banyak, kata Pak Rizal pada penjualnya. Namanya Bu Surati. Saya sendiri tidak pakai udang.

Sambil mempersiapkan, Bu Surati aktif menjawab pertanyaan Pak Rizal. Termasuk pertanyaan lawas-lawas.
Nikmat sekali tampaknya. Sengaja tidak mengajak berbincang, ketika asyik menikmati gado-gado.

Apalagi menikmati gurihnya bagian kepala udang galah goreng. Rupanya, ini yang membuat Pak Rizal Dandaman dengan gado-gado Teluk Bayur.

Selepas dari warung Bu Surati, kami mampir di lapangan bola Teluk Bayur. Lapangan di mana klub Ajax pernah merumput.

Hari itu saya merangkap sebagai guide. Menjawab pertanyaan sekitar Teluk Bayur dan sejarah tembang Batu Bara.
Dari Teluk, kami ke Pasar Adji Dilayas. Di tempat ini Pak Rizal banyak bertanya.

Hebat, halamannya luas, kata dia. Lagi-lagi saya menjelaskan detail. Maklum, proses pembangunannya saya tahu persis.

Sebelum kembali ke hotel tempat menginap, kami melaksanakan salat Jumat di Masjid Agung Baitul Hikmah. Dia duduk di saf depan, sementara saya duduk di belakang, di pilar sambil sandar. (*/sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
Catatan Daeng Sikra