Asap Pekat Sempat Lumpuhkan Bandara Kalimarau, Hujan di Tanjung Redeb Jadi Angin Segar yang Dinanti

Nurismi • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 17:20 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

GEMURUH suara guntur sekitar jam 15.50 Wita terdengar beberapa kali. Apakah sebagai petanda akan turun hujan?
Ya, malam minggu kemarin itu Tanjung Redeb diguyur hujan. Tidak terlalu lama. Tapi cukuplah bagi warga bisa merasakan udara segar.

Saya dan banyak warga lainnya tentu sama-sama berharap akan turun hujan sedikit berlama-lama. Bukan hanya di Tanjung Redeb, juga merata hingga ke wilayah kecamatan. Terutama titik api karhutla.

Hujan di malam minggu itu lama ditunggu warga. Setidaknya menjadi hujan kedua dalam berapa minggu terakhir.
Bayangannya, bahwa dengan tibanya hujan itu akan mengurangi kepekatan asap yang mengganggu kesibukan warga.

Ada yang bilang, kalau titik panas atau titik api di Kabupaten Berau mulai berkurang. Tapi, mengapa asap tebal terus menyelimuti wilayah kota?

Asap kiriman Daeng, kata teman yang aktif mengikuti perkembangan cuaca di wilayah Kalimantan. Bisa jadi kiriman dari Kalimantan Tengah.

Karena kepekatan asap itu, Bandara Kalimarau dalam dua hari terakhir beberapa penerbangan memutuskan untuk tidak terbang. Terutama penerbangan dari dan ke Jakarta maupun Bandara Juanda di Surabaya.

Akibat kondisi udara seperti itu, setelah dilakukan pengukuran kualitas udara. Dinas Lingkungan Hidup menyebutkan status cuaca di Berau sangat tidak sehat.

Meski disebutkan cuaca tidak sehat, aktivitas berbelanja di tepian Sungai Segah masih saja berlangsung. Kan yang penting menggunakan masker Daeng, begitu kata salah seorang warga yang menikmati kopi susu di Tepian Segah Jalan Pulau Derawan.

Bujur jua, salah satu alasan sejumlah organisasi turun ke jalan membagikan masker, sekaligus penyeluhan akan dampak cuaca seperti sekarang.

Karena hujan di malam hari, kegiatan olahraga serta lari yang semula sempat diragukan, akhirnya bisa dilaksanakan.
Termasuk kegiatan car free day di Jalan Ahmad Yani dan Jalan Murjani I berlangsung meriah. Warga dan pedagang UMKM tetap saja aktif berkegiatan seperti hari-hari sebelumnya.

Dan beberapa saat setelah suara gemuruh guntur kemarin sore itu, akhirnya Tanjung Redeb dan beberapa wilayah sekitar diguyur hujan lagi.

Alhamdulillah hujan turun lagi. Semoga kondisi udara di Berau statusnya turun kembali menjadi normal.
Walau debitnya hujan tidak terlalu besar, cukupah memberi pengaruh pada kondisi air baku PDAM. Pengolahan air PDAM bisa berlangsung aman.

Sebetulnya ada wilayah di Berau yang sangat berharap turunnya hujan. Yakni pulau wisata Maratua. Kekurangan air tawar mulai dirasakan warga. Khususnya resor yang menjadi wajib agar persediaan air tawarnya tidak terputus.

Saat ini warga harus membeli air tawar untuk digunakan di rumah masing-masing, dengan harga Rp150 ribu per tanki.

Maratua dan pulau sekitar diketahui mengandalkan air hujan untuk kebutuhan MCK warga. Pemkab membantu tempat penampungan air, namun belum bisa berfungsi maksimal.

Termasuk peralatan desalinasi yang ditempatkan di Kampung Bohe Silian, yang dibiarkan tidak berfungsi. Kalau alat itu diperbaiki, bisa menjadi solusi bagi warga pulau Maratua untuk mendapatkan air tawar. (*/sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
kabut asap Catatan Daeng Sikra