HARUSNYA ada persembahan khusus ketika Berau dan Tanjung Redeb merayakan hari jadinya. Persembahannya berupa tak tampak lagi antrean BBM di SPBU.
Bukan hanya antreannya. Tetapi, bagaimana agar harga BBM jenis pertalite dan pertamax itu bisa meringankan para konsumen. Konsumen merasa gembira merayakan hari jadi itu.
Bisa jadi, ketika puncak perayaan ulang tahun, saya salah satunya yang merasakan gelisah. Gelisah tak mendapatkan BBM.
Sepanjang Jalan Milono dan Jalan P.Diguna, warung yang biasanya menjual BBM eceran itu, dispensernya diselimuti kain. Dan ada tulisan habis.
Saya lalu berpikir. Mungkin pemilik warung belum dapat giliran pasokan BBM dari pelanggannya yang rutin membawa. Atau mungkin juga pemilik warung tak punya tenaga ekstra untuk ikut antre di SPBU.
Di sekitar Jalan Mangga ada yang jual Daeng, kata teman. Mungkin saja informasi teman itu benar. Tapi kalau informasinya tidak akurat, saya bisa pulang mendorong motor. Hahaha.
Sudahlah, pasrah saja. Mungkin ada hikmahnya. Tak dapat BBM, bisa behinip di rumah. Biar pun kekawalan mengajak minum kopi di Warung Aceh, terpaksa ditolak.
Saya pun memilih menikmati segelas teh susu di Warung Pojok. Tak lama datang Pak Majid, sahabat saya yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Perikanan.
Sebetulnya nama kantornya Dinas Perikanan dan Kelautan. Berhubung kewenangan di wilayah laut dibatasi, maka saya lebih suka menyebut Sinas Perikanan saja. Tanpa kelautan. Hahaha.
Dia baru pulang dari Lapangan Pemuda. Menghadiri puncak perayaan hari jadi Kabupaten Berau dan Kota Tanjung Redeb. Keuyuhan pinanya.
Teman saya itu, ketika perayaan hari jadi kabupaten, punya tugas yang lumayan berat. Yakni menyediakan kebutuhan ikan pada acara Manutung Jukut.
Karena alasan cuaca yang tidak memungkinkan. Bupati Sri Juniarsih, memutuskan untuk membatalkan acara bakar-bakar ikan itu. Gantinya, ikannya dibagikan ke wilayah kecamatan. Lebih berat lagi tugasnya.
Sudahlah. Sebagai anak buah, nikmati saja. Jalankan saja apa yang jadi perintah komandan. Toh semua kinerja itu akan ada penilaiannya tersendiri.
Pak Majid tidak bercerita bagaimana jatah BBM para nelayan. Kalau sulit mendapatkan poin dan kalau toh dapat dengan harga mahal, maka dampaknya konsumen ikan di Tanjung Redeb yang merasakannya. Harga ikan sekarang saja lumayan mahal, kata saya.
Memang begitulah pusaran efek dari BBM yang mulai sulit didapatkan. Semuanya terkena imbasnya. Bayangkan harga BBM jenis pertalite saja, dijual di tingkat eceran seharga Rp 15 ribu.
Seperti yang dijual di salah satu kios di Jalan SM Aminuddin. Terpaksa harus dibeli, bila tidak, saya tidak bisa hadir di warung kopi milik sahabat saya Fendi di Jalan Manggis. (*/sam)
@daengsikra.id