Mengurai Sengkarut Antrean Panjang Kendaraan, Fenomena Pengetap Bikin Ruang Beli BBM Tak Nyaman

Nurismi • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 18:05 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

YANG penting barangnya ada. Soal harga, itu urusan belakang. Termasuk soal bahan bakar minyak.

Ketika belum lahir pertalite dan pertamax, yang dikenal dulu hanyalah bensin. Yang kuning warnanya. Sekarang kan warnanya biru muda dan biru tua.

Pernah ada situasi di mana BBM jadi langka. Ngalih mendapatkan. Kadada nang bejual. Bisa dibayangkan situasinya. Hampir bersamaan warga gelisah.

Mungkin saja ada yang besimpanan. Simpanan bensisnya itu yang dijual. Konsumen berabut. Kalau tak salah ingat, rasanya dijual harga tiga puluh ribu, orang masih berabut.

Beda dengan warga Kecamatan Bidukbiduk. Tenang-tenang saja warga di sana. Nda repot dengan urusan BBM.
Rupanya ada warga yang rutin membeli bensin ke Palu, Sulawesi Tengah. Bensin itu yang dijual ke warga. 

Jadi untuk urusan BBM khususnya jenis pertalite dan pertamax sekarang ini, sebetulnya tak terlalu disoal warga. Maksudnya harganya tak disoal. Yang penting barangnya ada.

Saya pun ikut merasakan. Posisi minyak di tanki motor sudah sangat terbatas. Hanya bisa bergerak sejauh satu kilometer. Setelah itu habis.

Lalu, di Warung Kopi di Jalan Jend Sudirman depan apotek, ada bisik-bisik kalau seseorang punya persediaan BBM. Tidak banyak, tersisa 5 liter.

Harganya berapa? Kata saya. Yang punya menjual seharga Rp 22.300. Jenis pertamax. Nda habis pikir, saya langsung pesan dua liter. Ini demi kendaraan agar bisa terus bergerak.

Memang sedikit panik. Walau saya menduga berkurangnya persediaan BBM, hanya soal waktu. Juga mungkin ada kendala pasokan ke Jober yang ada di Kampung Maluang.

Semua jadi sibuk. Bagaimana mengatasi agar tidak lagi terjadi kelangkaan. Mahasiswa pun turun ke jalan.

Mempertanyakan kemana BBM itu menghilang. Juga seberapa banyak sebetulnya `jatah` dari Pertamina untuk Berau.
Pertimbangannya bukan hanya pertambahan kendaraan setiap tahun. Juga banyaknya kendaraan dari luar daerah yang juga memerlukan BBM.

Belum lagi di mana-mana terbuka usaha industri. Nelayan pun memerlukan BBM. Ini yang selalu jadi dasar perhitungan dalam menentukan kuota BBM. Terutama BBM subsidi.

Antrean panjang tak pernah terlihat sepi di hampir semua SPBU. Baik di Tanjung Redeb maupun di 13 kecamatan. Kendaraan dengan mobilitas tinggi, sudah pasti membutuhkan jumlah BBM yang lebih banyak.

Lampu dispenser penjual BBM eceran sudah menyala. Artinya pasokan BBM sudah aman. Terutama jenis pertamax yang tak perlu antre di SPBU. Ada angka yang terlihat Rp 18.000. Itu artinya harga jual jenis pertamax sejumlah itu. Kalau di SPBU kan lebih murah Rp 2.000.

Ini jadi pelajaran. Bahwa ketika persediaan terbatas ditambah lagi situasi yang bisa menghambat tibanya kapal pengangkut BBM dari Tarakan, disitulah akan timbul gejolak.

Saya membayangkan sekali waktu tak ada lagi yang namanya pengetap, SPBU akan menjadi lapang. Dan kita pun menikmati suasana nyaman dalam membeli BBM di SPBU. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
pengetap Catatan bbm Daeng Sikra