Jaga Stabilitas Harga, Cadangan Pangan Jadi Benteng Pengendali Inflasi Daerah Berau

Nurismi • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 18:30 WIB
Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Berau, Hesty Sapriana. (DOKUMEN PRIBADI)
Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Berau, Hesty Sapriana. (DOKUMEN PRIBADI)

PANGAN gan tidak sekadar urusan perut, melainkan fondasi utama stabilitas ekonomi daerah. Ketersediaan makanan yang melimpah tidak akan banyak berguna bagi publik jika tidak diiringi dengan jaminan keamanan, mutu yang terjaga, serta harga yang ramah di kantong masyarakat Berau.

Di sinilah letak peran krusial pemerintah: mengelola cadangan logistik secara presisi agar gejolak pasokan akibat faktor cuaca maupun lonjakan permintaan pasar dapat diredam dengan cepat.

Memasuki pertengahan tahun 2026, kedaulatan logistik pangan—khususnya beras—menunjukkan performa terbaiknya. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menyentuh  sekitar 5,3 juta ton pada Juni 2026. Pencapaian ini diakui sebagai rekor penyerapan terbesar sepanjang sejarah pencatatan logistik nasional.

Cadangan Pangan sebagai Penyangga Logistik Daerah

Keberadaan persediaan yang jumbo ini memegang peranan vital sebagai buffer stock (stok penyangga). Logistik ini siap diterjunkan kapan saja saat terjadi krisis pasokan, gangguan jalur distribusi, bencana alam, bantuan sosial, hingga intervensi pasar ketika harga komoditas utama di Berau mulai merangkak naik.

Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, pemerintah pada 2026 telah menetapkan target penyerapan komoditas strategis secara masif untuk memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Target tersebut mencakup, Beras 4 juta ton, Jagung 1 juta ton, Minyak Goreng 790 ribu Ton, gula konsumsi 275 ton dan kedelai 70 ribu ton. 

Kondisi stok melimpah yang melampaui 5 juta ton pada Juli 2026 memberikan keleluasaan bagi pemerintah untuk menggelar intervensi pasar secara berkesinambungan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Korelasi Stok Melimpah dan Pengendalian Harga

Ketersediaan stok pangan yang memadai berbanding lurus dengan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas harga di daerah. Ketika pasokan melimpah, tekanan inflasi dapat ditekan.

Sebaliknya, saat produksi menurun di tengah permintaan yang tetap tinggi, harga bahan pokok di pasaran dipastikan bakal melonjak.

Untuk menjaga keseimbangan antara penawaran dan permintaan (supply-demand), pemerintah mengeksekusi berbagai instrumen kebijakan pro-rakyat, antara lain, Program SPHP: Penyaluran langsung beras berkualitas ke pasar-pasar di Berau.

Gerakan Pangan Murah (GPM): Penjualan langsung bahan pokok ke masyarakat dengan harga terjangkau. Fasilitasi Distribusi Pangan & Pemantauan Real-Time: Pengawasan intensif antardaerah serta pemantauan pergerakan harga harian melalui Panel Harga Pangan.

Pengawasan distribusi menjadi kunci utama, mengingat stok besar tidak akan berdaya jika tidak sampai ke tangan masyarakat secara merata.

Terbukti hingga Juli 2026, lebih dari 1,23 juta ton beras telah disalurkan melalui beragam program pemerintah, di mana sekitar 514,1 ribu ton di antaranya dipasok khusus lewat kanal SPHP.

Realisasi Penyaluran Cadangan Pangan di Berau

Komitmen tersebut turut terealisasi secara konkret di Kabupaten Berau. Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) telah disalurkan kepada 262 keluarga yang tersebar di 8 kampung yang termasuk kategori rawan pangan.

Setiap keluarga penerima memperoleh paket bantuan berupa 20 kilogram beras CPPD, 2 kilogram gula pasir, 2 liter minyak goreng, serta 1 pack (piring) telur ayam ras.

Penyaluran bantuan ini menjadi bukti nyata bahwa cadangan pangan yang selama ini tersimpan di gudang benar-benar difungsikan sebagai instrumen perlindungan sosial, sekaligus menjaga daya beli masyarakat di kampung-kampung yang rentan terhadap gejolak ketersediaan pangan.

Pemantauan Harga di Pasar Adji Dilayas dan Pasar Batu Teluk Bayur

Guna memastikan efektivitas kebijakan stabilisasi harga, dilakukan survei langsung di dua pasar utama Berau, yaitu Pasar Adji Dilayas dan Pasar Batu Teluk Bayur.

Hasil pemantauan menunjukkan bahwa harga sebagian besar komoditas pangan pokok saat ini masih berada pada level normal.

Namun demikian, harga beras justru menunjukkan tren kenaikan. Kondisi ini dipicu oleh musim kemarau berkepanjangan yang tengah melanda wilayah Berau sebagai dampak dari fenomena El Nino, yang juga memicu maraknya kebakaran hutan dan lahan di berbagai titik.

Fenomena ini mengganggu pasokan dan berpotensi menekan produksi beras lokal, sehingga harga di tingkat pasar cenderung merangkak naik.

Tantangan Nyata: Distribusi dan Mitigasi Iklim

Meskipun cadangan pangan berada dalam kategori sangat aman, stabilitas harga pangan di Berau tetap dibayangi sejumlah risiko.

Ancaman dinamika cuaca, lonjakan biaya transportasi, ketimpangan pasokan antarwilayah, hingga konektivitas rantai pasok antarpulau menjadi tantangan harian yang harus diurai.

Ancaman fenomena iklim seperti El Nino juga terus diwaspadai. Kendati demikian, Bapanas mengonfirmasi bahwa pasokan komoditas pangan utama—seperti beras, jagung, kedelai, bawang, cabai, daging, telur, hingga gula—diproyeksikan tetap aman hingga penutup tahun 2026.

Catatan penting bagi pemerintah adalah bahwa mengelola pangan tidak cukup hanya dengan menumpuk stok di gudang. Diperlukan sinergi utuh agar rantai distribusi berjalan lancar, harga di tingkat petani/produsen tetap memberi keuntungan yang adil, dan harga di tingkat konsumen akhir di Berau tidak menggerus daya beli.

Kesimpulan

Cadangan pangan adalah benteng pertahanan utama dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan sosial di Kabupaten Berau.

Pencapaian cadangan beras pemerintah yang menembus lebih dari 5 juta ton pada 2026, ditambah realisasi penyaluran bantuan kepada 262 keluarga di 8 kampung rawan pangan, membuktikan kesiapan dan keberpihakan pemerintah dalam menghadapi gejolak pasokan, baik di tingkat global, nasional, maupun lokal.

Namun, besarnya stok hanyalah separuh dari penyelesaian masalah. Keberhasilan menjaga harga pangan—termasuk mengantisipasi tekanan harga beras akibat kemarau panjang dan El Nino saat ini—sangat tergantung pada pemerataan distribusi, pengawasan spekulasi pasar, penguatan produksi lokal, serta keberlanjutan program intervensi seperti SPHP dan GPM.

Dengan tata kelola logistik dan jaringan distribusi yang tangguh, pemerintah tidak hanya mengamankan ketersediaan pangan, tetapi juga melindungi daya beli seluruh lapisan masyarakat Berau. (*/hmd)


*) Oleh: Hesty Sapriana, S.P., M.E (Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Berau).

Editor : Nurismi
stabilitas harga Catatan pangan