Langit Mendung Tapi Belum Hujan, Kisah di Balik Terik Ekstrem Tanjung Redeb

Nurismi • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:20 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

TIDAK serta merta Daeng, itu kata teman mengomentari kerja rekayasa cuaca yang sedang berlangsung di Berau.
Pesawat yang digunakan untuk menebar garam dalam prosesi rekayasa udara itu, kini berada di Bandara Kalimarau dan sudah memulai tugas menebar sekitar 40 ton garam.

Dua hari setelah itu, walau ada gumpalan awan hitam di atas langit Tanjung Redeb, namun belum juga turun hujan. Bahkan sejak pagi hingga menjelang petang saya menantikan, tak kunjung turun hujan.

Saya percaya omongan teman yang menyebut tidak serta merta. Sebab menurut teman saya itu, ada syarat teknis sebelum melakukan penebaran garam dalan prosesi rekayasa cuaca.

Tensi panas suhu di Tanjung Redeb semakin terasa menggigit. Teman-teman di Warung Pojok, Yansen, Zul dan Iwan mengaku kalau panas kemarin itu berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Nda tahu berapa jua kah suhunya? Kata Iwan.

Dalam situasi begitu, saya lebih memilih berada di rumah setelah kembali dari Warung Pojok. Saran teman, lebih baik berada di rumah saja dari pada bekeliling dibawa terik matahari. Bisa dehidrasi.

Disaat panas begitu, petugas sensus ekonomi tak bisa menunda pekerjaannya. Saya salah satu responden yang ditemui. Saya perkirakan jam siang bapak baru ada di rumah, kata petugas sensus itu. Dia perempuan rekrutmen dari sekian banyak petugas sensus.

Tak perlu formil. Kami diwawancarai sambil berdiri di teras. Menjawab sekitar lima belas pertanyaan. Bapak masih aktif? Tanyanya.

Saya hanya senyum-senyum. Sudah delapan tahun pensiun, kata saya. Saya membayangkan dengan jawaban bahwa saya sudah pensiun, tak banyak pertanyaan sulit yang dilontarkan. Paling pertanyaan standar saja.

Memang sempat bertanya soal pendapatan dan pengeluaran setiap bulannya. Lagi-lagi saya tertawa. Namanya pensiunan, Anda bisa menbayangkan berapa penghasilan dan berapa pengeluaran, kata saya.

Dia memberi petanyaan di luar kepala maksudnya, tak ada form khusus untuk mengisi termasuk tanda-tangan.
Dia hanya menulis di buku, seperti buku catatan seorang wartawati, mungkin setelah di rumah barulah dirangkum kembali.

Ibu masih jualan? Tanyanya. Maksudnya istri saya. Oh, rupanya dia salah seorang pelanggan online istri saya yang sewaktu-waktu jualan kue. Enak loh kue buatan istri bapak, lanjutnya. Terima kasih, jawab saya.

Mengenakan rompi bertuliskan sensus ekonomi. Siang-siang harus berkeliling sesuai wilayah yang ditugaskan. Panas-panas begini tetap jalan ya  Apa boleh buat pak, ada target yang harus saya selesaikan setiap hari.

Sebelum meninggalkan rumah, saya mohon maaf pada petugas sensus itu. Sebab, wawancaranya sambil berdiri di teras rumah. Sukses selalu mba ya? Kata saya. (*/sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
Catatan Daeng Sikra