TENGAH malam terdengar jelas suara guntur. Wargapun berpikir, setelah suara menggelegar itu berlalu, akan disusul turunnya hujan.
Saya pun mengintip di balik jendela. Tak ada tanda-tanda aspal jalanan akan basah. Hujan tidak turun. Hujan yang diharapkan ribuan warga Tanjung Redeb.
Namun di Teluk Bayur suasananya beda. Semalam hujan lebat Daeng, kata Hairul teman yang tinggal di Teluk Bayur.
Dia pun menggambarkan bagaimana daun-daun yang semua 'diselimuti' debu, berubah terlihat bersih. Hijau. Sekitar Bandara Kalimarau juga hujan, tambahya.
Dia berpikir, bahwa hujan yang mengguyur Kota Tua Teluk Bayur itu akan rata di wilayah lainnya termasuk di Tanjung Redeb. Bahkan dia berpikir, sampai ke Gunung Tabur dan Sambaliung. Rupanya, hujannya hanya sekitar Teluk Bayur.
Dia bercerita bagaimana gembiranya warga Teluk Bayur yang hanya berjarak tak lebih sepuluh kilometer dari Tanjung Redeb itu, setelah beberapa hari kekeringan.
Andai saja hujan semalam itu juga membasahi hingga ke wilayah Labanan yang masih masuk dalam wilayah Kecamatan Teluk Bayur, maka akan menjadi ringan para petugas pemadam kebakaran yang bekerja kerasa memadamkan Karhutla.
Tak kalah serunya komentar Bahar yang punya sedikit lahan perkebunan di sekitar Bandara Kalimarau. Dia sudah hampir putus asa. Kalau tidak ada hujan, tanaman sayur mayurnya tidak akan bisa dipanen.
Makanya, dia merasa senang dan gembira setelah Teluk Bayur hingga ke Bandara Kalimarau diguyur hujan. Aku kada uyuh lagi menyirami tanaman di kebun, katanya sambil senyum.
Saya pikir, hujan di Teluk Bayur itu tak lain adalah buah dari rekayasa cuaca yang dilakukan BNPB. Rekayasa itu diharapkan akan turunnya hujan di sekitar wilayah IKN. Ternyata bergerak hingga ke Teluk Bayur.
Soal guntur yang menggelegar lewat tengah malam itu, banyak warga yang mengiringi doa rasa syukur. Sebab, ketika guntur menggelegar, biasanya diikuti oleh turunnya hujan.
Saya juga mananti-nanti. Selebat apa hujan yang akan turun. Debu jalan di dalam kota Tanjung Redeb akan terkikis habis. Urusan nanti mengakibatkan genangan seperti biasanya, itu ururusan belakang. Yang penting hujan dulu.
Sore kemarin, kendaraan pemadam kebakaran meluncur menuju Sambaliung. Banyak yang menduga ada kebakaran lahan di sekitar Kampung Limunjan. Ternyata lain, rombong yang jualan di tepi sungai terbakar. Warga sekitar pun jadi panik.
Kira-kira sampai kapan hujan di Tanjung Redeb ini akan turun? Kabarnya pesawat yang digunakan melakukan rekayasa cuaca akan bergeser ke Bandara Kalimarau. Mantap lah.
Ini artinya tim rekayasa cuaca akan bekerja maksimal hingga semua wilayah kecamatan bisa menikmati hujan. Termasuk di destinasi wisata Maratua dan Derawan.
Yang penting hujan turun. Walau kita tahu, hujan yang turun itu tanpa memilih siapa yang akan basah. (*/sam)
@daengsikra.id