Batalnya Tradisi Manutung Jukut, Cerita Pelanggan Warung Pojok hingga Potensi Rekor MURI

Nurismi • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:00 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

SEBETULNYA pelanggan Warung Pojok sudah beurunan mengumpulkan duit. Tujuannya, ikut meramaikan acara Manutung Jukut.

Bahkan sudah ditentukan lokasinya, yakni di depan Warung Pojok Jalan Niaga. Seperti yang dilaksanakan dua tahun lalu.

Namun, tiba-tiba terdengar kabar kalau acara tahunan itu ditunda. Ada surat edaran yang disampaikan melalui Pak Majid, Kepala Dinas Perikanan yang ditugaskan sebagai komandan acara itu.

Jadi kayak apa rencana kita? Begitu komentar di grup WA pelanggan Warung Pojok. Tergantung kawalan saja? Kata Hendra, salah seorang anggota yang paling aktif di Warung Pojok.

Agaknya tak etis, bila Pemkab sendiri membatalkan hajatan itu, sementara ada kelompok masyarakat mengadakan acara bakar-bakar iwak. Apa ujar bupati kandia? Kalau ada apa-apa siapa tanggung jawab?

Ada juga yang berpendapat lain, bahwa pembatalan acara yang dinanti masyarakat itu masih terbilang cepat. Padahal acaranya baru di bulan September. Setelah puncak hari jadi kabupaten.

Dalam surat edaran itu, sudah disebutkan alasan bupati melalui kepala Dinas Perikanan. Pertimbangannya sangat teknis dan demi menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Hal apakah itu ? kita tahu, bahwa cuaca ekstrim seperti sekarang, berdampak terjadi kebakaran hutan dan lahan di banyak titik. Termasuk wilayah terdekat dari Tanjung Redeb.

Petugas pemadam kebakaran bersama aparat dan masyarakat, terus berjibaku memadamkan api. Satu titik yang dipadamkan, muncul titik api yang baru di tempat lain. Situasi ini yang jadi pertimbangan utama.

Sementara dalam pelaksanaan bakar ikan atau Manutung Jukut, hampir semua peserta masing-masing memiliki tungku pembakaran ikan.

Lagi pula, dengan udara yang panas. Ditambah lokasi di tepian sungai yang berangin itu ada kekhawatiran, terjadinya kebakaran. Baik di tenda peserta ataupun berdampak ke rumah warga.

Ada juga dengan santai menyebut, kan sudah melakukan salat khusus minta diturunkan hujan. Kalau permintaan itu dipenuhi, kan bisa saja acara dilanjutkan. Hehe.

Sudahlah. Pemkab sudah memutuskan bahwa acara manutung jukut dibatalkan. Dan disebutkan pula, bahwa ikan yang sudah terlanjur dipesan, akan dibagikan kepada daerah kecamatan.

Manutung jukut sudah berlangsung lama, dimulai sejak Pak Makmur jadi bupati. Awalnya pesertanya tidak terlalu banyak. Hanya kantor-kantor saja.

Belakangan, karena dianggap meriah, pesertanya jadi membeludak. Hampir seluruh RT dan kelurahan di Tanjung Redeb ikut serta meramaikan acara itu.

Luasan wilayahnya juga terus bertambah. Awalnya hanya sepanjang Jalan A Yani, Tepian Segah. Acara yang pernah digelar beberapa tahun lalu membeludak hingga ke Jalan Antasari dan Jalan Gajah Mada.

Ada keinginan acara Manutung Jukut itu bisa mendapatkan rekor MURI, mengingat jumlah warga dan banyaknya ikan yang dibakar secara bersamaan. Belum lagi kalau wilayah kecamatan ikut serta.

Perlu dibuatkan konsep yang menarik dan memenuhi standar penilaian MURI. Ini akan menjadi nilai tambah pelaksanaan manuntung jukut. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
Catatan Manuntung Jukut Daeng Sikra batal