Nostalgia Kantor Sempit Hingga Panji Pariwisata, Mengenang Jejak Almarhum Bupati Berau Muharram

Nurismi • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:15 WIB
PANJI PARIWISATA: Kenangan bersama almarhum Muharram yang saat itu menjabat sebagai Bupati Berau, usai menyerahkan panji keberhasilan pariwisata kepada penulis saat masih aktif sebagai ASN. (WAWAN UNTUK BERAU POST)
PANJI PARIWISATA: Kenangan bersama almarhum Muharram yang saat itu menjabat sebagai Bupati Berau, usai menyerahkan panji keberhasilan pariwisata kepada penulis saat masih aktif sebagai ASN. (WAWAN UNTUK BERAU POST)

SEPULUH tahun lalu, saat masih aktif bersama teman-teman di kantor yang dapat tugas mengurus pariwisata. Kantornya di ujung Jalan Pulau Panjang yang kecil itu. Kantor yang dulunya adalah kantor Dinas Peternakan.

Di kantor itulah kami begelumuk. Ibarat kata, antara teman saling bersentuhan lintuhut, saking sempitnya ruangan itu.

Tapi ada hebatnya, semangat mereka bekerja tak kunjung padam. Mirip moto Departemen Penerangan Api nan Tak Kunjung Padam.

Alasannya, dengan ruangan yang sempit serta anggaran yang tidak banyak, mereka tetap semangat. Semua berwajah ceria. Walau singkip yang penting kreatif.

Bupati almarhum Muharram bersama Wakilnya Agus Tantomo, tak bicara banyak. Kami hanya melaksanakan apa yang menjadi visi dan misi. Itu saja. Selebihnya adalah improvisasi. Yaa, ASN juga perlu improvisasi dalam bekerja.

Yang saya ingat, sekali waktu, di dermaga Green Nirvana Resor di Maratua, almarhum Muharram menyampaikan ide wisata syariah.

Saya jawab spontan, ngalih pak aee. Kenapa ngalih? Kata Pak Muharram.

Lalu, saya meminta beliau untuk balik badan ke belakang. Kebetulan ada wisatawan asal Tiongkok yang asyik berselancar dengan pakaian minim. Bahkan sangat minim. Astagfirullah gumam Pak Muharram.

Saya paham maksud Pak Muharram. Setidaknya bila akan bersosialisasi, wisatawan bisa menutup dengan kain sehingga nampak enak dipandang. Lagi pula, harapannya setiap resor ada tempat untuk salat. Itu sederhananya.

Lalu, teman saya Wawan yang staf di Forkopim Pemkab Berau, mengirimkan foto. Foto yang penuh dengan kenangan indah. Foto di mana saya pun tidak mengoleksinya sebagai arsip kenangan.

Foto berdampingan dengan almarhum Muharram, saya dalam foto itu memegang panji keberhasilan sektor Pariwisata. Sebuah penghargaan tertinggi yang selalu diberikan pada puncak peringatan HUT Provinsi Kaltim.

Lawasnya foto ini kucari, kata saya pada Wawan lewat pesan WA. Dia hanya tertawa. Penghargaan itu diberikan pada daerah kabupaten kota mendapatkan panji keberhasilan.

Dan usai upacara bendera di halaman kantor bupati, panji dan piagam penghargaan itu diserahkan kepada pihak yang bekerja membangun citra pariwisata di daerah.

Panji adalah buah kerja sama tim yang elok. Tanpa kerja sama, mustahil sebuah pnghargaan bisa didapatkan, pun mustahil sebuah keberhasilan dan sukses untuk dicapai.

Hanpir sepuluh tahun berlalu. Saya masih ingat ketika Covid menyerang, salah seorang yang menjadi korban adalah Bupati Berau, Muharram. Semua orang bersedih. Semua orang berduka.

Kini, kantor di ujung Jalan Pulau Panjang itu tak ditempati lagi. Ada bangunan baru di ujung Jalan Pulau Derawan. Bangunan termegah dari semua OPD. Sebagai bukti, betapa seriusnya Pemkab membangun pariwisata.

Kalau dengan bangunan sederhana saja bisa membangun kerja sama yang hebat. Harusnya dengan bangunan kantor nan luas itu, akan lebih hebat lagi. Kerja sama internal lebih kental lagi. Bisa lebih banyak improvisasi.

Sekarang, anggaran tak sebanyak tahun lalu. Atau dua tahun lalu. Saatnya mengerahkan segenap pikiran dan tenaga.

Membangun sinergitas, kolaborasi dangan banyak pihak yang sama-sama ingin melihat pariwisata di Kabupaten Berau semakin maju.

Leading sektor, kata Bupati Sri Juniarsih. Jadi harapan pendapatan di masa depan. Dan itu tak bisa dicapai, tanpa persiapan sejak dini.

Termasuk kerja sama yang lebih baik lagi di antara para pekerja di balik dinding bangunan megah di Jalan Pulau Derawan. (*/sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
Catatan Daeng Sikra