DUA anak muda dari Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, berbincang sekitar peluang bisnis di Berau. Yang dibisniskan juga sederhana. Hanya kelompok sayur mayur.
Di daerah asal mereka, memang dikenal sebagai kabupaten sentra sayur mayur. Khususnya kubis, kentang, wortel, dan bawang merah.
Mereka sudah mencermati pasar. Juga berencana mencari tempat sebagai penampung. Lokasinya di luar Pasar Adji Dilayas.
Dia bercerita, ketika musim panen untuk jenis kubis dan bawang merah, di tempat tinggalnya itu melimpah. Oleh petani dijual dengan harga murah. Bahkan sangat murah.
Margin itulah yang ingin dikejar. Dengan perhitungan cermat. Mulai sewa truk hingga penyeberangan. Masih lumayan untungnya Daeng, kata mereka.
Kami berbincang di ujung jalan. Bersama Pak Jebbar asal Bantaeng yang bekerja sebagai tukang tambal sepatu.
Saya sudah dua kali mendatangkan sayur kol dan bawang merah serta lombok segar Daeng, katanya.
Dan, hanya butuh waktu tiga hari, semua bawaan dari Bantaeng itu habis terjual. Yang paling dicari itu sayur kubis alias kol.
Makanya, dia berencana membuka tempat permanen. Selain memasok ke pasar atau agen besar. Mereka juga akan membuka toko sekaligus dijadikan gudang penampungan. Kalau di Bantaeng panen raya, kami kewalahan juga, ungkapnya.
Bercerita soal bawang, salah satu komoditas yang sangat diperlukan konsumen, dalam dua hari ini rame dibahas soal pengupas bawang.
Ini gara-gara pidato Presiden Prabowo yang menghadirkan salah seorang Sesama pekerja pengupas bawang merah asal Bogor yang katanya diberi upah tujuh ratus ribu setiap kilogramnya.
Sontak jadi tema utama di Warung Pojok. Aku gin handak juga begawi kalau upahnya segitu, kata salah seorag pengunjung Warung Pojok.
Itu karena salah baca saja. Keseleo lidah. Mungkin saja dalam teks pidato Presiden itu menyebut tujuh ratus rupiah per kilogram. Karena bersemangat, ditambah kata ribu di belakang angka tujuh ratus. Ramailah jadinya.
Di pasar Manunggal kemarin sore, saya belanja bawang, bawang tanpa kulit. Penjualnya asyik mengupas bawang. Saya bergurau menyebut berapa upah mengupas bawang? Penjualnya ketawa. Dia pun lalu menyebut, murah saja pak. Tidak tujuh ratus ribu.
Rupanya si penjual juga aktif mengikuti perkembangan di media sosial. Warung kecil yang bersebelahan dengan penjual ayam potong itu, langganan saya sejak lama.
Saya belanja, serubit-serubit alias sedikit-sedikit. Mulai bawang merah tanpa kulit, bawang putih juga tanpa kulit, lombok rawit dan tomat.
Kenapa beli sedikit-sedikit pak, kata penjualnya. Saya sampaikan kalau rumah saya dekat dengan pasar Manunggal. Kapan saja perlu bisa ke pesar.
Pasar Manunggal itu lengkap. Semua bahan keperluan dapur tersedia, kecuali daging segar. Bagi warga sekitar Japan Milono, pasar Manunggal menjadi pilihan tempat untuk berbelanja. (sam)
@daengsikra.id