Ngobrol Santai Bersama Makmur HAPK di Titik Koma, Bahas Karhutla Hingga Kenangan Pedalaman

Nurismi • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 18:40 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

FRANCHISE Titik Koma di Jalan Pulau Derawan baru sekitar enam bulan hadir. Konsepnya pada level anak muda. Kopi, non kopi, dan makanan ringan.

Pemandangannya menarik. Tak jauh dari Sungai Segah. Bisa menyaksikan kesibukan pedagang sepanjang tepian sungai.

Dan, dari kejauhan melihat Museum Gunung Tabur. Juga deretan tugboat yang parkir di sungai menunggu giliran bergerak.

Siang kemarin, saya ke tempat itu. Menembus panas yang 'menggigit'. Ada ajakan Pak Makmur, mantan bupati ngobrol di kafe yang dikelola oleh anaknya.

Ketika grand opening enam bulan lalu, saya diundang. Ada banyak teman lama yang hadir. Teman yang sering diajak berbincang tentang situasi terkini di Berau.

Duduk di ruang berpendingin. Di lantai dua. Berada di antara anak muda. Ada yang datang bersama pasangannya. Saling suap makanan ringan hehe.

Rasanya kembali ke usia muda. Iri juga menyaksikan kemesraan anak muda itu. Berfoto mesra. Lalu berbincang dengan suara yang pelan.

Panas bujur, kata Pak Makmur.

Tapi, dia berharap agar tidak terulang seperti situasi kemarau yang dulu-dulu. Di mana air laut masuk ke sungai, hingga membuat operasional pembangkit listrik PLTU terhenti.

Itu yang saya khawatirkan, ungkapnya sambil memandang ke arah sungai, terlihat pemandangan yang lain. Pemandangan yang tidak seperti biasanya. Bersih dan langit biru terlihat jelas.

Siang kemarin itu, mesti jarak pandang cukup, tapi sepetinya sudah mulai berselimut asap. Kita tahu, wilayah Tanjung Batu, Sambaliung, dan kabarnya bergeser ke wilayah pedalaman, terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Dia rupanya mencermati media sosial, di mana ada saja daerah yang sudah mulai turun hujan. Di Tarakan sudah mulai hujan, kata Makmur.

Bila situasi karhutla terus berlangsung dan tidak juga turun hujan. Dia sangat khawatir jarak pandang di Bandara Kalimarau akan terganggu. Jangan sampai terulang seperti dululah, kata Makmur.

Lalu, kami pun berkisah lagi pada masa-masa ketika melakukan kunjungan kerja ke wilayah pedalaman. Sebuah perjalanan yang mengasyikkan dan harus ditempuh oleh seorang pimpinan daerah.

Ke Kampung Long Sului, tidak semudah yang kita bayangkan. Disaat kemarau seperti sekarang ini, menuju Long Sului perjalanan adalah sebuah perjuangan.

Saya dan Pak Makmur, pernah melakukan perjalanan ke Long Sului dan banyak tempat yang jangkauannya jauh dari ibukota kabupaten. Seorang pemimpin harus melalui perjalanan yang berat sekalipun. Jangan mau nyamannya saja, ungkapnya.

Pun ke kampung Teluk Sumbang ketika infrastruktur jalannya belum sebagus sekarang. Semua dilakukan demi menemui warga dan mendengar apa yang jadi keluhannya.

Bahwa bulan September nanti Berau kembali merayakan hari jadinya. Saatnya kita semua untuk merenung memikirkan apa yang sudah kita laksanakan. Apa yang sudah kita berikan pada daerah yang kita cintai.

Dia yang masih anggota DPRD, masih tetap memimirkan bagaimana masa depan kabupaten yang pernah ia pimpin sebagai bupati selama dua periode.

Tidak terasa, kami berbincang sudah satu jam. Anak muda mulai berdatangan. Menikamati hari minggu petang dari lantai dua Titik Koma.

Saya pamit pulang. Menuruni anak tangga bentuk spiral itu. Hati-hati di jalan, pesan Makmur. Maklum, usia kami sama. Jadi saling mengingatkan saja. Terutama soal kesehatan.

Dalam perjalanan pulang, saya lalu teringat, dulu ketika terjadi karhutlah banyak organisasi yang turun membagikan masker. Kita menunggu, siapa yang memulai untuk membagikan masker secara cuma-cuma. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
Catatan Daeng Sikra