DUA teh es dan satu air mineral. Begitu suara pelayan salah satu rumah makan di Jalan Gajah Mada, mengulang pesanan tamunya yang datang menikmati santap siang.
Hebat, kata saya dalam hati. Walaupun perbincangan mereka tidak panjang, namun sang pelayan mampu menerjemahkan apa yang dipesan pelanggannya yang kebetulan adalah wisatawan asal Jerman.
Apakah ini hasil dari sebuah pelatihan? Yang sering saya saksikan adalah pelatihan bahasa asing para tour guide di Pulau Marartua dan Derawan. Belum pernah mendengar ada pelatihan bahasa asing, khusus bagi pelayan rumah makan di Tanjung Redeb.
Padahal sangat penting. Walau tidak lancar, namun pelayan itu bisa memberi layanan yang baik bagi para tamunya. Termasuk para wisatawan mancanegara, khususnya asal Jerman yang datang kemarin siang itu.
Dengan begitu, The Seven Charms atau Sapta Pesona telah ditunaikan oleh sang pelayanan rumah makan. Yakni, hospitable alias ramah dan memorable atau kenangan.
Saya kebetulan duduk bersebelahan meja dengan wisatawan itu. Dia bertiga bersama anaknya yang baru berusia enam tahun. Anak satu-satunya.
Mereka baru saja menyelesaikan libur panjangnya di Pulau Maratua selama satu minggu. Dan kemarin, harus melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo, namun menyisakan waktu dua hari di Balikpapan. Saya mau keliling Balikpapan, kata dia.
Di Maratua, dia menginap di salah satu resor yang memudahkan mereka melakukan aktivitas di laut. Lumayan, biaya permalam tidaklah terlalu mahal, kata dia dalam Bahasa Inggris.
Selama sepekan itu, dia memanfaatkan betul untuk mengunjungi semua tempat yang sudah menjadi catatannya sebelum memutuskan liburan ke Pulau Maratua.
Ya, saya tahu Maratua melalui beberapa penerbitan majalah dan lewat internet, kata dia. Dan dia mengaku sangat terkesan dengan kujungan pertama ke pulau terluar di Kalimantan Timur itu.
Saya bisa melihat Manta, Jellyfish, juga Green Turtle walau hanya dengan melakukan snorkling di tepi pantai, ungkapnya.
Ia mengaku, Maratua is Beautiful. Walau dia sudah pernah mengunjungi Maldives dan Seychelles, namun dia tak mau membandingkan dengan dua destinasi yang mewah itu. Maldives terlalu mewah dan mahal, katanya. Maratua lebih cantik dan murah biayanya, ungkapnya.
Saya mencermati apa saja yang dipesan dalam acara makan siangnya di warung sea food itu. Hanya dua jenis, yakni udang bakar lada hitam dan sayur kangkung tumis. Tidak jauh beda dengan pesanan saya. Hehe.
Dari Berau kemudian mau kemana lagi? Tanya saya. Dia menyebut bahwa dia punya waktu liburan selama sepuluh minggu, tersisa beberapa minggu lagi setelah dari Maratua.
Menurutnya, akan ke Balikpapan selama dua hari, kemudian melanjutkan ke Labuan Bajo dan Bali. Dari situ, kemudian menyeberang lagi menikmati keindahan beberapa destinasi di Pulau Sumatera hingga ke Pulau Weh. Salah satu pulau cantik paling ujung barat Indonesia. Di Aceh. (*/sam)
@daengsikra.id