Nostalgia Formasi Lama Bupati dan Ajudan, Momen Unik Makmur HAPK di Pesta Pernikahan

Nurismi • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:05 WIB
KUMPUL LAGI: Penulis bersama Pak Makmur HAPK dan istri, serta mantan ajudan Husdiono. (DOK PRIBADI)
KUMPUL LAGI: Penulis bersama Pak Makmur HAPK dan istri, serta mantan ajudan Husdiono. (DOK PRIBADI)
 
RIZAL SYAFRIANSYAH, teman saya dua hari lalu ke rumah. Mengantarkan undangan pesta pernikahan putra pertamanya Aqila Al Ghazali. “Jangan kada ingat daeng,” begitu pesannya.
 
Rizal itu abang dari Wawan yang dulu kami sama-sama satu tim di Humas Pemkab Berau. Wawan itu jago foto. Banyak karyanya diabadikan di beberapa sudut bandara Sepinggan di Balikpapan.
 
“Acaranya di aula Kodim daeng,” kata Rizal. Maklum sang menantu Cindi Septiana Puspita, putri ketiga dari pak Sertu Salam. Sang besan anggota TNI, pakai gedung di kompleks Kodim saja.
 
Saya lama tidak pernah melintas di sekitar markas  kodim di Jalan Pulau Sambit. Saya ingat kalau ada aulanya sejak dulu. Dulu masih konstruksi kayu. Jadi lapangan bulutangkis.
 
Memang harus sering-sering keliling Tanjung Redeb. Akibat lama tidak pernah lewat di jalan kantor Kodim itu, saya terkejut.
 
Bukan hanya aula yang dulu kayu dan sekarang bangunan kokoh. Juga bagian dari kantor Kodim itu sudah  semakin megah.
 
Panas saya naik motor saja. Tiba di lapangan parkir, hampir bersamaan tibanya Pak Makmur HAPK bersama istri  Seri Marawiyah. Rizal dan keluarga besar Pak Makmur, memang ada kedekatan kekelurgaan.
 
Bersamaanlah kami masuk ke ruangan utama. Namanya mantan bupati, banyak undangan yang datang bersalaman. Sayapun umpat sawaf disalami urang.
 
Duduk di meja bundar. Saya dan Pak Makmur bersebelahan. Tak lama ikut bergabung Husdiono, ajudan setia Pak Makmur selama sepuluh tahun. Dia sekarang tugas di kantor catatan sipil.
 
Duduk berempat, mengingatkan kami saat Pak Makmur masih aktif sebagai bupati. Saya yang kebetulan dipercaya jadi Humas selalu hadir. Begitupun dengan sang ajudan.
 
Lalu diam-diam Husdiono mengirimi pesan WA. “Ini reuni kita daeng,” begitu pasan singkat Husdiono yang lebih akrab dipanggil pak Tono.
 
Pak Makmur hadir tidak mengenakan sepatu. Jalanpun sedikit pincang. “Batis, kenapa pak,” tanya saya.
Rupanya ada `mata ikan` di kaki dan baru dioperasi. Itulah sebabnya, dia pakai sandal dan badannya sedikit kurang fit.
 
Di saat kami duduk itu, banyak ASN yang hadir mendekati meja kami menyalami Pak Makmur. Lagi-lagi saya umpat sawaf disalami bubuhannya. Ya, kenal juga sih.
 
Ketemu Kadis Lingkungan Hidup Zulkifli Ashari . Ada Pak Mansyur, sahabat saya yang dulu sama-sama tugas di kantor pertambangan. “Saya tahun depan pensiun daeng,” kata Pak Mansyur.
 
Menghadiri hajatan pernikahan di manapun  di Berau, selalu saja menjadi ajang reuni. Bisa jadi kami jarang jumpa di jalan, tapi di acara pesta pernikanan inilah dipertemukan banyak teman. Banyak sahabat. Apalagi Pak Makmur yang memang mantan bupati.
 
Kami duduk lumayan lama. Menyaksikan  prosesi acara pesta pernikanan itu. Sementara ASN yang masuk jam istirahat, mulai datang satu persatu.
 
Ada pemandangan menarik, ketika kami menuju panggung untuk memberi ucapan selamat pada kedua mempelai.
“Ingatkan dulu daeng,” kata Husdiono. Urutannya bupati bersama istri, lalu kabag Humas serta ajudan sesudahnya. Saya tertawa lebar. “Kenapa ketawa,” kata Pak Makmur.
 
Ini nah, Husdiono mengingatkan dulu, kalau bejalan formasinya selalu bersama kabag humas, kata saya. Lalu, gantian Pak Makmur yang tertawa.
 
Dan sebelum kembali, Wawan yang memang fotograper di Humas sekarang Prokopim, mengabadikan suasana itu. “Foto bersama dulu, kenangan bersama kedua mempelai,” kata Wawan. (*/udi) @daengsikra.id
Editor : Nurismi
Catatan Daeng Sikra