ADA video singkat yang beredar di media sosial, memperlihatkan seekor penyu hijau setengah dewasa menjadi korban terkena baling-baling perahu cepat.
Karena yang terkena baling-baling bukan pada bagian yang mematikan, nampak penyu itu masih terus berupaya berenang.
Ada warga yang melihat kejadian itu. Mendekati penyu lalu terdengar ucapan yang akan membawa ke darat untuk menjalani pengobatan. Peristiwa itu kabarnya berlangsung di laut Pulau Derawan.
Sepekan sebelumnya, lewat media sosial lagi-lagi maskot yang jadi kebanggan Kabupaten Berau itu kembali jadi korban.
Ceritanya, warga yang kabarnya tinggal di wilayah pesisir, menangkap penyu dewasa yang sudah produktif bertelur.
Untuk apa? Menurut penjelasan warga, warga itu tergiur dengan telur penyu. Tidak sabar menunggu penyu itu bertelur, mereka para oknum warga mengambil bepaksaan.
Caranya, bagian badan penyu hijau itu dibelah. Lalu ratusan butir telur yang sebetulnya siap untuk ditelurkan oleh Penyu itu, diambil paksa oleh warga tersebut.
Tidak dijelaskan, apakah warga itu sekalian juga mengambil daging penyu. Mengingat banyak ceritera daging penyu kabarnya juga nyaman untuk dikonsumsi.
Soal pembantaian penyu hijau, di Berau sudah berlangsung lama. Pernah puluhan ekor penyu dewasa ditangkap oleh nalayan asal luar daerah. Beruntung sempat diamankan oleh petugas, sehingga penyu tak sempat di bawa pergi.
Menurut cerita. Nelayan itu menangkap penyu di Berau atas pesanan. Sebab, di daerah di mana mereka berasal, dijadikan salah satu persembahan adat.
Dari pengalaman yang terjadi di pantai Pulau Derawan, penyu sudah sekian kali menjadi korban terkena baling-baling mesin speed boat.
Padahal, wisatawan yang datang ke pulau itu, salah satu yang ingin disaksikan adalah bagaimana penyu itu bermain di tepi pantai sambil menikmati daun pisang yang disiapkan oleh wisatawan.
Mungkin perlu penegasan kembali kepada operator perahu cepat. Agar ketika mendekati pantai, kecepatan dikurangi. Sebab, di kawasan mendekati pantai itulah dijadikan penyu untuk bermain.
Teman saya, hingga kini masih berurusan dengan hukum akibat memanen telur penyu di salah satu pulau di sekitar Pulau Mataha. Kabarnya, teman saya itu terkena aturan dan dipastikan mendekam di balik jeruji penjara.
Lalu, bagaimana dengan warga yang mengorbankan penyu hijau untuk mengambil telur yang masih tersimpan di dalam perut sang penyu. Pastilah akan terkena pasal yang lebih memberatkan lagi.
Mungkin perlu kembali menyosialissikan bagaimana perlakuan terhadap penyu hijau yang menjadi ikon wisata Berau.
Pulau Sangalaki, Pulau Mataha, dan Blambangan menjadi tempat penyu untuk bertelur. Perlu pengawasan ketat.
Dan ini bukan saja menjadi tugas Dinas Perikanan, melainkan tugas kita semua agar penyu hijau yang kita sayangi itu tetap lestari.
Tentu kita tidak berharap, bahwa penyu karena sering disakiti, lalu pergi menjauh. Pergi ke tempat yang lebih nyaman dan tidak terusiuk oleh tangan yang tidak paham akan perlunya menyelamatkan dan mengamankan habitat penyu. (sam)
@daengsikra.id