KESIBUKAN sepanjang tepian Sungai Segah mulai bergerak sekitar jam 15.00 WITA. Ada pembagian kerja yang sudah berlaku sejak lama.
Seseorang diberi tugas, tentu dengan bayaran menempatkan gerobak dan menata kursi. Gerobak jualan itu terparkir tidak jauh dari tepian.
Satu per satu gerobak diatur sesuai dengan tempat yang sudah ditentukan. Menata tempat duduknya.
Proses itu berlangsung sekitar dua jam. Setelah semua selesai, barulah penjualnya datang dengan dandanan yang sudah rapi dan cantik.
Begitulah yang terjadi setiap hari. Jadi, ada banyak orang yang ikut mendapatkan berkah dari kegiatan berjualan di tepian. Saya tida tahu berapa upah yang didapatkan petugas yang menata gerobak dan kursinya.
Bukan hanya bekerja pada sore hari. Menjelang tengah malam. Petugas itu kembali bekerja membawa gerobak bersama seluruh kursi untuk diparkir di suatu tempat. Begitu rutinitas setiap harinya.
Saya menyaksikan kesibukan itu kemarin, sambil berolahraga ringan di sepanjang tepian. Kawasan yang memang disiapkan untuk pejalan kaki atau yang berolahraga di pagi dan sore hari.
Sebelum mendapat bantuan gerobak jualan yang seragam dari Pemkab, penjual makanan dan minuman di tepian itu menggunakan gerobak yang tidak seragam. Ada yang ukurannya lumayan besar dan menyita tempat.
Setelah mencermati kesibukan awal berjualan para pedagang di tepian itu, saya menyeberang ke toko buku Kompas. Toko yang sudah hampir setengah abad berjualan di Jalan A Yani.
Pemilik toko sahabat saya, almarhum Loko Markus asal NTT. Dalam sepekan ini, toko buku Kompas ramai dikunjungi. Terutama ibu-ibu yang membawa serta anak-anaknya.
Maklum, mulai masuk sekolah setelah libur panjang. Semua-semua harus baru. Termasuk buku tulis mereka juga harus baru.
Sudah diantisipasi. Jauh hari toko sudah menyediakan buku tulis dalam jumlah banyak. Berapa pun kebutuhan anak sekolah, cukup tersedia.
Saya lalu ingat ketika seusia mereka. Saat masih di Sekolah Dasar (SD) dan SMP. Ditemani orang tua membeli buku di toko. Termasuk pembungkus buku berwarnna cokelat. Ada yang menyebut kertas minyak.
Orang tua tahun ini agak tertolong. Sebab, mereka hanya membeli buku tulis untuk anak-anaknya. Sementara baju sekolah sudah ditanggung pemerinah kabupaten.
Ada sebelas ribu lebih jumlah murid SD dan SMP di Berau. Pemkab sudah menyediakan anggaran Rp 16 Miliar. Ini sangat membantu bagi keluarga yang kebetulan punya anak yang mulai sekolah lebih dari dua. (sam)
@daengsikra.id