Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Catatan Batiwakkal

Teknisi Surabaya Terkejut, Biaya Makan Sehari-hari di Tanjung Redeb Ternyata Cukup Mahal

Nurismi • Jumat, 10 Juli 2026 | 07:40 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

DI Warung Pojok kemarin pagi, jumpa Pak Ibnu Sina Asyari. Mantan Sekkab yang masih nampak bugar di usianya  71 tahun. Pertemuan yang kesekian kalinya di warung kopi.

Dia menikmati secangkir kopi tanpa gula, sambil berbincang dengan tiga personel yang mengenakan pakaian kerja. Saya lalu ikut bergabung.

Pak Ibnu bercerita keinginannya menempati bekas kantor Disbudpar di ujung Jalan Pulau Panjang. Untuk kantor para pensiunan, kata dia.

Rupanya tak mendapat respons, begitu pun dengan sejumlah pemohon lainnya. Ditolak oleh Pemkab. Dan akhirya agar adil, kawasan itu dijadikan ruang terbuka hijau.

Lalu, saya coba mengajak berbincang dengan tiga personel yang berpakaian kerja -wearpack- wara merah dan biru.
Rupanya dia dapat tugas mengerjakan salah satu unit mesin PLTU Lati yang lagi bermasalah. Ada masalah di generatornya, kata salah seorang dari mereka.

Saya tidak bercerita banyak soal PLTU Lati. Hanya saja saya gambarkan bahwa mantan Bupati Almahum Masdjuni dan Makmur HAPK yang berjasa menghadirkan PLTU di saat Berau krisis energi listrik.

Jasa itu masih dinikmati hingga sekarang yang mungkin usianya lebih dari dua puluh tahun. Usia mesin seperti itu, memang ada saja masalahnya.

Terlepas soal mesin PLTU yang tengah diperbaiki, tiga teknisi yang menetap di Surabaya, Jawa Timur, mengaku terkejut selama berada di Berau.

Biaya hidup lumayan mahal, kata dia. Mahal pada kacamata bagaimana mengatasi soal makan sehari-hari. Kalau siang, kami bisa makan di kantin yang ada di pembangkit di Lati.

Untuk sarapan dan makan malam ini yang terpaksa kami harus mencari sendiri. Lumayan besar pengeluaran untuk makan. Belum lagi sewa kendaraan yang dipakai sehari-hari.

Sempat membandingkan harga makanan yang dijajakan di Surabaya dan Tanjung Redeb. Beda jauh harganya. Juga beda variasi menunya.

Karena tugas di Berau, apapun situasinya dinikmati saja. Dia justru senang menikmati suasana warung kopi di Warung Pojok yang penuh dengan kekeluargaan. Kapinya enak mas, kata dia.

Saya pun berceritera kalau jaringan SUTET yang sudah masuk ke wilayah Berau. Bahkan kabarnya sudah memasok listrik di wilayah pesisir.

Apa ini tidak mengganggu keberadaan PLTU ya mas? Bila melihat keperluan listrik, agaknya PLTU tidak akan terganggu dengan masuknya sistem Mahakam yang disalurkan lewat SUTET itu.

Yang terganggu bisnisnya ya? Kata saya. Dia tidak menjawab. Hanya tersenyum. Maklum, PLTU kan adalah bisnis jualan setrum. Mungkin ini yang sedikit terganggu dalam jangka panjang. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Catatan #Daeng Sikra