PARIWISATA merupakan aktivitas perjalanan untuk menikmati keindahan alam, budaya, sejarah, maupun berbagai atraksi yang ditawarkan pada suatu daerah.
Akan tetapi, ada satu aspek yang kerap dilupakan oleh publik, yaitu bahasa. Bahasa merupakan unsur yang tidak terpisahkan dari pengalaman perjalanan berwisata karena wisatawan tidak hanya melihat landscape atau mengunjungi objek tertent.
Tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat, membaca papan informasi, memahami petunjuk, mendengarkan penjelasan pemandu wisata, serta menggunakan berbagai layanan yang terintegrasi dengan penggunaan bahasa.
Bahasa Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis di destinasi wisata. Sebagai bahasa nasional, Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat komunikasi yang menghubungkan wisatawan dan pelaku wisata yang berasal dari latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda.
Pada aspek yang lain, Bahasa Indonesia juga berfungsi sebagai simbol identitas nasional yang vertujuan untuk memperkenalkan karakter bangsa kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.
Perkembangan industri pariwisata yang semakin menglobal, memosisikan Bahasa Indonesia pada sebuah tantangan yang tidak mudah, yaitu dominasi bahasa asing, terutama bahasa Inggris yang mulai terlihat pada berbagai distinasi wisata, mulai dari papan informasi, nama tempat usaha, hingga materi promosi destinasi.
Tentunya kondisi tersebut menimbulkan sebuah pertanyaan penting: sejauh mana Bahasa Indonesia masih hadir dan berfungsi dalam ruang-ruang destinasi wisata di Indonesia?
Bahasa sebagai Jantung Komunikasi Pariwisata
Industri pariwisata pada dasarnya merupakan industri komunikasi karena hampir seluruh aktivitas wisata melibatkan proses pertukaran informasi antara berbagai pihak.
Wisatawan membutuhkan informasi mengenai lokasi, fasilitas, transportasi, harga tiket, jadwal kegiatan, aturan kunjungan, hingga aspek keselamatan. Semua informasi tersebut hanya dapat dipahami secara efektif melalui bahasa yang jelas dan mudah dimengerti.
Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah yang menjadi kekayaan budaya yang luar biasa, akan tetapi sekaligus menghadirkan tantangan komunikasi. Wisatawan yang berasal dari Aceh, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, atau Papua mungkin memiliki bahasa ibu yang berbeda.
Keragaman tersebut bisa dicairkan atau disatukan menggunakan Bahasa Indonesia karena berperan sebagai lingua franca yang memungkinkan komunikasi berlangsung secara efektif.
Ketika seorang wisatawan asal Makassar berkunjung ke Yogyakarta atau seorang wisatawan asal Samarinda berlibur ke Bali, mereka dapat memperoleh informasi dan layanan wisata melalui Bahasa Indonesia.
Tanpa kehadiran bahasa nasional, interaksi antarpelaku wisata akan menjadi jauh lebih kompleks. Dalam perspektif komunikasi pariwisata, bahasa bukan sekadar alat penyampai pesan, melainkan juga instrumen yang menentukan kualitas pelayanan.
Informasi yang disampaikan secara jelas akan membantu wisatawan memahami destinasi yang dikunjungi, mengurangi kesalahpahaman, dan meningkatkan kepuasan selama berwisata.
Bahasa Indonesia sebagai Wajah Bangsa
Selain berfungsi sebagai alat komunikasi, Bahasa Indonesia juga memiliki fungsi simbolik karena bahasa mencerminkan identitas suatu bangsa. Penggunaan Bahasa Indonesia di destinasi wisata tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun citra nasional.
Ketika wisatawan mengunjungi Jepang, mereka akan menemukan bahasa Jepang mendominasi ruang publik, hal yang sama dapat ditemukan di Korea Selatan, Prancis, atau Tiongkok. Kehadiran bahasa nasional di ruang publik menjadi penanda identitas sekaligus kebanggaan bangsa.
Indonesia semestinya tidak berbeda karena kehadiran Bahasa Indonesia pada papan informasi, petunjuk arah, materi interpretasi budaya, brosur wisata, dan media promosi merupakan bentuk representasi identitas nasional.
Bahasa Indonesia menunjukkan bahwa wisatawan sedang berada di Indonesia, negara yang memiliki sejarah, budaya, dan karakter sosial yang khas.
Dalam kajian sosiolinguistik, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai simbol kekuasaan, identitas, dan ideologi (Wardhaugh & Fuller, 2021).
Oleh karena itu, penggunaan Bahasa Indonesia di destinasi wisata dapat dipahami sebagai sebuah bentuk afirmasi identitas nasional di tengah arus globalisasi yang semakin kuat.
Oleh karena itu, Bahasa Indonesia mampu menjadi medium untuk memperkenalkan konsep-konsep budaya lokal yang tidak selalu memiliki padanan yang tepat dalam bahasa asing. Istilah seperti gotong royong, musyawarah, adat istiadat, kearifan lokal, atau rumah adat mengandung makna sosial dan budaya yang khas Indonesia.
Penggunaan istilah tersebut di ruang wisata membantu memperkenalkan nilai-nilai budaya Indonesia kepada wisatawan.
Lanskap Linguistik Destinasi Wisata
Salah satu cara untuk melihat keberadaan bahasa di ruang wisata adalah melalui konsep linguistic landscape atau lanskap linguistik. Konsep ini merujuk pada penggunaan bahasa dalam berbagai tanda visual yang terdapat di ruang publik, seperti papan nama, petunjuk arah, baliho, spanduk, menu restoran, hingga papan informasi wisata (Landry & Bourhis, 1997).
Lanskap linguistik merupakan gambaran sebuah regulasi bahasa sekaligus penanda identitas suatu wilayah. Bahasa yang digunakan di destinasi wisata pada berbagai media visual tidak hanya berfungsi memberikan informasi, akan tetapi juga mengirimkan pesan simbolik mengenai siapa yang dianggap sebagai pengguna utama pada ruang tersebut.
Ketika papan informasi di suatu objek wisata lebih banyak menggunakan bahasa asing dibandingkan Bahasa Indonesia, muncul kesan bahwa wisatawan asing lebih diprioritaskan daripada wisatawan domestik.
Sebaliknya, ketika Bahasa Indonesia ditempatkan sebagai bahasa utama dan didampingi bahasa asing sebagai terjemahan, identitas nasional tetap terjaga tanpa mengurangi aksesibilitas informasi bagi wisatawan internasional.
Pada praktiknya banyak destinasi wisata di Indonesia mulai menerapkan sistem informasi dwibahasa sehingga pendekatan ini dapat dianggap sebagai solusi yang ideal karena mampu mengakomodasi kebutuhan wisatawan domestik dan mancanegara secara bersamaan.
Dominasi Bahasa Inggris dalam Industri Wisata
Tidak dapat dimungkiri bahwa bahasa Inggris memiliki posisi penting dalam industri pariwisata global karena digunakan sebagai alat komunikasi internasional yang memudahkan interaksi lintas negara.
Oleh karena itu, penggunaan bahasa Inggris di destinasi wisata merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Persoalan muncul ketika bahasa Inggris justru menggantikan posisi Bahasa Indonesia di ruang publik wisata.
Fenomena ini dapat ditemukan pada berbagai destinasi yang menggunakan nama-nama berbahasa asing untuk restoran, kafe, hotel, kawasan wisata, maupun berbagai materi promosi, sehingga Bahasa Indonesia sering kali ditempatkan pada posisi sekunder atau bahkan tidak digunakan sama sekali.
Fenomena tersebut bukan hanya berkaitan dengan pilihan bahasa, tetapi juga menyangkut ideologi bahasa kerena bahasa tertentu dianggap lebih bergengsi dibandingkan bahasa lainnya.
Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, Bahasa Indonesia berpotensi mengalami marginalisasi di ruang publik yang seharusnya menjadi representasi identitas nasional.
Padahal, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara secara tegas menempatkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara yang wajib digunakan dalam berbagai ruang publik dan pelayanan kepada masyarakat.
Dampak terhadap Pengalaman Wisatawan
Keberadaan Bahasa Indonesia di destinasi wisata memiliki dampak langsung terhadap pengalaman wisatawan dan akan membantu wisatawan memperoleh pengalaman yang lebih nyaman dan bermakna, wisatawan tidak hanya membutuhkan petunjuk arah atau informasi teknis.
Mereka juga ingin memahami sejarah, budaya, dan makna yang terkandung dalam suatu objek wisata sehingga di sinilah bahasa memainkan peran penting sebagai jembatan antara destinasi dan pengunjung.
Papan informasi yang ditulis dengan bahasa yang komunikatif dapat membantu wisatawan memahami nilai historis suatu situs budaya.
Penggunaan papan tersebut akan ditunjnag dengan penjelasan pemandu wisata yang menggunakan Bahasa Indonesia yang baik sehingga akan meningkatkan kualitas pengalaman wisata serta dapat memberikan kesan positif apabila dilakukan melalui komunikasi yang ramah dan jelas.
Dalam perspektif pemasaran destinasi, pengalaman wisata yang positif akan meningkatkan kemungkinan wisatawan untuk kembali berkunjung atau merekomendasikan destinasi tersebut kepada orang lain.Dengan kata lain, penggunaan Bahasa Indonesia yang efektif juga memiliki nilai ekonomi bagi industri pariwisata.
Menempatkan Bahasa Indonesia sebagai Tuan Rumah
Pariwisata Indonesia membutuhkan strategi yang mampu menyeimbangkan kebutuhan global dan kepentingan nasional. Prinsip yang perlu dibangun bukanlah memilih antara Bahasa Indonesia atau bahasa asing, melainkan menempatkan keduanya secara proporsional.
Bahasa Indonesia harus berperan sebagai tuan rumah, sementara bahasa asing berfungsi sebagai pendamping. Pemerintah daerah, pengelola destinasi wisata, pelaku usaha pariwisata, dan lembaga pendidikan pariwisata perlu bekerja sama untuk memperkuat penggunaan Bahasa Indonesia dalam berbagai layanan wisata.
Pelatihan komunikasi bagi pemandu wisata, standardisasi bahasa pada papan informasi, serta pengawasan terhadap penggunaan bahasa di ruang publik merupakan langkah strategis dalam pengelolaan destinasi wisata.
Ketiga aspek tersebut berkontribusi terhadap terciptanya komunikasi yang efektif antara penyedia layanan dan wisatawan, peningkatan kualitas pengalaman wisata, serta penguatan identitas nasional melalui penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah kebahasaan.
Selain itu, pengembangan konsep wisata berbasis budaya lokal juga perlu didukung oleh penggunaan Bahasa Indonesia yang berkualitas. Bahasa tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun narasi mengenai siapa kita sebagai bangsa.
Penutup
Di tengah persaingan industri pariwisata global, Bahasa Indonesia tidak boleh dipandang sekadar sebagai alat komunikasi. Bahasa Indonesia adalah identitas, warisan budaya, dan simbol kedaulatan bangsa.
Kehadirannya di destinasi wisata memperlihatkan bagaimana Indonesia memperkenalkan dirinya kepada dunia. Pariwisata yang kuat bukan hanya pariwisata yang mampu menarik wisatawan sebanyak-banyaknya, tetapi juga pariwisata yang mampu mempertahankan jati dirinya.
Dalam konteks itulah Bahasa Indonesia memiliki peran yang sangat penting. Bahasa Indonesia bukan penghalang bagi kemajuan pariwisata, melainkan aset strategis yang dapat memperkuat pengalaman wisata, meningkatkan kualitas pelayanan, dan menegaskan identitas Indonesia di tengah arus globalisasi. (hmd)
*)Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin Makassar.
Editor : Nurismi