MEETING point Samarinda di mana Daeng? Itu pertanyaan sahabat saya, Hendra pejabat eselon III Dinas Perhubungan Berau.
Urusan bertemu direncanakan dan pertemuan di luar dugaan, banyak wadahnya. Saya menyebutkan beberapa tempat yang bisa jadi kenangan. Seperti warung kopi depan bank BNI di Samarinda. Atau Warung Kopi Maju di Jalan Panglima Batur.
Tinggal pilih saja, kata saya. Hendra rupanya punya meeting point sendiri. Yakni warung Jenggo depan Mall Samarinda Central Plaza (SCP).
Seperti yang terjadi kemarin malam. Saya datang setelah menyelesaikan antrean panjang dokter yang lokasinya dekat RSUD Wahab Sjahranie. Saya menunggu giliran hampir empat jam.
Karena masih ada waktu, saya sempatkan ke Warung Jenggo. Mau menikmati nikmati Susu Telur Madu Jahe (STMJ) menu andalan warung jenggo.
Asyik menikmati, Hendra tiba-tiba muncul. Mungkin dia juga inginengembalikan tenaga setelah rapat sehari penuh di Balikpapan. Akhirnya kita ketemu juga di Warung Jenggo Daeng, kata Hendra.
Tapi malam itu dia memesan bukan STMJ. Yang dipesan justru teh susu, sama dengan pesanan bila di Warung Pojok di Berau.
Rupanya Hendra sudah beberapa malam di Samarinda. Menemani Pak Hefni, sang bos Dinas Perhubungan
Tahukah sejarah Warung Jenggo Daeng? Tanya Hendra. Kalau melihat wajah pelayannya, nampaknya mereka itu adalah generasi ketiga penerus Warung Jenggo.
Waktu kuliah dulu (1977) Warung Jenggo itu sudah ada. Dulu lokasinya berdekatan dengan Warung Mutiara di sekitar Pasar Pagi. Tinggal hitung sudah berapa tahun, kata saya. Perintisnya warga asal Sulawesi Tenggara.
Mungkin dulu hanya mengandalkan kejujuran, sehingga penjualnya tidak memperhatikan apa saja yang dimakan. Tahunya terakhir bayar saja, kata saya.
Belakangan ada yang makan empat kue dan satu gelas STMJ, tapi menyebut hanya dua kue. Nah di situlah muncul sebutan ‘jenggo’ dan berlaku sama dua generasi berikutnya.
Bagi Pemkot Samarinda ataupun Kaltim. Warung Jenggo adalah salah satu tempat legen. Sama legennya Bubur Ayam Banten, Warung Kopi Maju di Jalan Panglima Batur.
Makanya tempat legen itu bisa disebut meeting point. Tak perlu janji ketemuan. Mereka yang pernah tinggal lama di Samarinda pasti ke tempat ini ketika ada kunjungan. Seperti saya dan Hendra.
Berau juga kita perlu hadirkan meeting point. Misalnya Warung Pojok. Bisa juga Warung Muin yang sudah hadir di Berau sejak setengah abad lalu. (sam)
@daengsikra.id