SEJAK diresmikannya Jembatan Nibung di wilayah pesisir pantai, volume kendaraan dari arah Samarinda jadi terbagi.
Kemarin, saya melakukan perjalanan darat menuju Samarinda. Memasuki wilayah Kecamatan Kelay, kendaraan tidak seramai beberapa bulan sebelum Jembatan Nibung difungsikan.
Menurut pengakuan sopir travel saat jumpa di masjid Kelay, menyebutkan sekarang agak lapang kami bisa jalan lebih santai tanpa harus kebut-kebutan, kata sang sopir.
Masalahnya, banyak kendaraan memilih jalur Kutai Kutai (simpang perdau). Khususnya kendaraan membawa penumpang yang akan wisata ke Bidukbiduk.Lumayan beda waktunya. Juga bisa irit bahan bakar, ungkapnya.
Situasi sepanjang jalan hingga memasuki wilayah Kutai Timur dan Bontang, jumlah kendaraan (travel) tidak banyak.
Kecuali kendaraan "raja jalanan" truk pengangkut CPO jumlahnya tak berkurang. Berpapasan dengan mobil CPO harus ekstra hati-hati.
Lancarnya angkutan darat melalui ruas jalan Kutai Timur, sangat membantu wisatawan yang akan berkunjung ke pesisir di akhir pekan.
Menurut sopir yang pernah melewati jalur Jembatan Nibung, yang sangat diperlukan adalah rambu penunjuk jalan.
Sebab, yang dilalui berada dalam kawasan kebun sawit (45 menit). Sehingga perlu rambu yang memadai.
Ada juga sopir travel menyebut, dalam perjalanan bisa dipandu Google map. Mulai dari simpang Perdau.
Jadi sekarang ada pilihan jalan. Lewat pesisir khusus jalur wisata. Sementara jalur lama, saya sebut saja jalur bisnis. Hehe. (sam)
@daengsikra.id