
SAYA lebih familier dengan menyebut hemodialisis dibanding dengan sebutan yang sering diucapkan banyak orang, terutama yang tengah menjalani sakit yang mendebarkan.
Ya, kemarin di Warung Pojok, teman saya bercerita bagaimana kondisi adik iparya yang sedang menjalani perawatan di Tarakan. Itu perawatan yang kesekian kalinya, kata teman saya.
Saya pun terpancing menanyakan sakit apa adik iparnya itu. Lalu, disebutlah bagaimana adiknya itu tengah berjuang melawan sakitnya dan harus menjalani cuci darah. Nah, sebutan cuci darah itulah yang bisa menyesakkan dada.
Kenapa harus ke Tarakan? Berceritalah teman saya yang kebetulan juga seorang pensiunan Dinas Kesehatan. Kita tahulah situasinya di Berau Daeng, kata teman saya itu.
Nah, sang adik ipar setelah menjalani hemodialisis di Tarakan, pulang lah ke Tanjung Redeb. Namun dia masih harus menjalani pemeriksaan lanjutan. Masih harus berhadapan lagi dengan mesin hemodialisis.
Kasiannya dapat nomor menunggu lima puluh, tambahnya. Saya membayangkan nomor tunggu seperti itu harus berapa hari menunggu giliran.
Dengan nomor tunggu seperti itu, saya pun membayangkan pastilah fasilitas di rumah sakit sangat terbatas. Baik alat dan ruangannya.
Saya sedikit menarik waktu dua dekade ke belakang. Di mana fasilitas Rumah Sakit Abdul Rivai masih sangat terbatas. Banyak peralatan standar yang harus dimiliki belum bisa diadakan.
Setahu saya waktu itu, bukan karena tidak punya uang membeli alat. Tapi satu paket dengan SDM-nya. Persoalan sumber dayanya ini juga jadi persoalan.
Maaf, mungkin banyak yang tidak percaya bahwa pernah satu situasi di mana rumah sakit, untuk menapatkan tabung oksigen saja, harus menunggu pasokan dari Samarinda. Sedih kan.
Dan, dua hari lalu saya ke rumah sakit. Ingin melihat suasana dan membandingkan antara suasana terakhir dengan keinginan bupati cepat-cepat menggunakan rumah sakit yang baru dibangun. Bagus jua.
Dan, wakil bupati kebetulan meluangkan waktu membesuk koleganya yang sedang dirawat. Di saat itu juga, ditamani Dokter Jusram, Direktur RSUD dr Abdul Rivai, menerima keluhan kalau rumah sakit minim mesin hemodialisis. Wabup Gamalis ahirnya tahu juga kalau antrean layanan hingga 50 pasien.
Keluhan pasien di Rumah Sakit Abdul Rivai, soal layanan kesehatan, soal petugas dan peralatan kesehatan harusnya menjadi catatatn penting.
Apalagi Rudy Mas'ud, sang Gubernur Kaltim meninjau bangunan baru itu. Manajemen bisa segera memberi `oleh-oleh` kepada gubernur berupa catatan peralatan kesehatan yang sangat diperlukan dan sifatnya mendesak.
Pertumbuhan penduduk, gaya hidup, dan terbukanya akses jalan antara kabupatan menjadi faktor akan banyaknya layanan kesehatan yang memerlukan dukungan peralatan. Termasuk mesin cuci darah alias mesin hemoialisis. (sam)
@daengsikra.id