SAYA pernah mendengar kisah lama sekitar peristiwa di Teluk Bayur. Lokasinya di gedung pertunjukan.
Kata si pembawa cerita, ada satu peristiwa yang sudah direncanakan untuk menghabisi komunitas Tionghoa di Teluk Bayur.
Caranya. Warga diundang dengan alasan akan ada pertunjukan. Dan tak ada kecurigaan sedikit pun dengan niat jahat di balik undangan itu.
Ternyata, di sekeliling gedung itu sudah terpasang bahan peledak. Hanya dengan sekali aba-aba, maka habislah semua yang ada di dalamnya.
Beruntung, di antara sekian banyak orang itu ada yang pandai elektro. Dia paham suasana itu dan mencari pusat, di mana bisa menggagalkan rencana tersebut.
Tidak dengan menyampaikan secara terbuka yang bisa menyebabkan warga panik. Dia berhasil memutus jaringan. Gagallah rencana itu.
Itu salah satu dari sekian banyak yang tersisa dari kisah lama yang pernah tejadi di Teluk Bayur. Dan bangunan gedung itu masih berdiri kokoh hingga kini. Pernah dialihfungsikan sebagai gedung bulutangkis. Lalu, beralih lagi jadi gedung bioskop.
Saya ada cerita menggelikan. Idris, sahabat saya punya tugas `melangsir` rol film. Waktu itu, satu judul film diputar di tiga tempat. Satu di Teluk Bayur, Tanjung Redeb, dan Gunung Tabur.
Asyik menonton, lalu terhenti lama karena masih menunggu antaran rol film dari Teluk Bayur. Lama sekali. Harus sabar. Tak lama, akhirnya kembali diputar lanjutan film itu.
Usai pertunjukan, saya temui Idris, nanya kenapa telat. Dia tidak menjawab, hanya ketawa. Rupanya dalam perjalanan, dia transit di kilometer lima. Hehe.
Sekarang, gedung tua di Teluk Bayur, sepertinya akan difungsikan lagi. Manajemennya akan diatur dengan rapi.
Agus Uriansyah, anggota DPRD Berau dan Jakariya, Ketua Partai Gerindra Berau, punya gagasan hebat. Selain mempertahankan nilai historis gedung itu, juga agar bisa dinikmati warga.
Kami mau buat bioskop saja Daeng, kata Agus. Kalau bisa dan memenuhi syarat, kita bisa masuk jaringan XXI akan lebih bagus, ungkap Jakariya.
Dua tokoh anak muda Teluk Bayur memang sudah lama memikirkan bagaimana agar sejumlah aset peninggalan zaman Belanda itu bisa terperhatikan dengan baik. Memang awalnya sudah ditetapkan sebagai kota tua.
Lalu berikutnya? Dengan mengaktifkan lagi gedung pertunjukan itu sebagai gedung bioskop. Saya kira akan ada investor yang berminat, kata Jakariya.
Sejumlah tokoh masyarakat di Teluk Bayur setuju dengan gagasan Agus dan Jakariya. Tinggal membuat konsep, lalu menyampaikan pada bupati sebagai bentuk kepedulian benda dan peninggalan sejarah. Saya yakin, bupati akan memberi dukungan anggaran dalam mewujudkan rencana itu, ungkapnya.
Karena berada dalam kawasan perkampungan. Gedung mulai dibenahi sedikit demi sedikit. Baik kawasan sekitar maupun interior.
Kami warga Teluk Bayur, sangat bersemangat mewujudkan rencana besar itu Daeng, sebut Agus. Apalagi dapat dukungan dari perusahaan yang berada dalam kawasan Teluk Bayur, pasti dengan senang hati membantu. Semoga saja bisa terwujud. Gedung ini salah satu monumen perjalanan sejarah di Berau, kata Agus.
Kembali soal kisah ahli elektro si penggagal rencana peledakan oleh Jepang, sampai saat belum jumpa. Kabarnya masih hidup dan sekarang tinggal di Samarinda. (sam)
@daengsikra.id