BERUNTUNGLAH para pedagang keliling dan warung tenda sekitar Taman Sanggam. Mereka terbantu dengan fasilitas WiFi cuma-cuma, yang ditempatkan di beberapa titik.
Makanya, penjual Bakwan Malang tidak langsung pulang ke rumah mereka di Sambaliung. Dalam perjalanan pulang, kelompok kecil terdiri dari 6 orang dengan gerobak panggulnya, parkir dulu di ujung trotoar.
Untuk apa? Mereka menikmati WiFi cuma-cuma. Setiap malam di tempat ini, kami bisa komunikasi tanpa bayar dengan keluarga di Malang Mas, kata salah seorang dari mereka.
Sebetulnya saya ingin mencicipi satu porsi bakwan. Tapi saya tahu, kalau sudah parkir di ujung trotoar, kondisinya pasti sudah habis. Setidaknya, bakwan dan bakso masih ada, kaldunya yang sudah habis duluan.
Mas, kata mereka, kami ini bersyukur dengan pemerintah. Sebab tersedianya WiFi gratis kami berhemat lumayan besar. Kami bisa berjam-jam video call dengan keluarga. Pun dengan pacar yang kebetulan belum berkeluarga. Bisa saling melepas rindu, ungkapnya.
Bukan penjual bakwan saja yang mengaku gembira. Warung tenda di trotoar samping Taman Sanggam lebih gembira lagi.
Mereka berjualan sejak pagi hingga menjelang tengah malam. Sepanjang hari itu, mereka tak perlu membeli paket data untuk komunikasi telepon genggamnya.
Mungkin itu yang jadi salah satu alasan, mengapa banyak penjual kopi trotoar yng betah berlama-lama. Mereka walau mengaku posisi lokasinya sering jadi incaran penertiban satpol PP, sebetulnya juga mengincar WiFi gratis.
Kembali ke penjual bakwan. Walau gembira dengan WiFi yang bisa dipakai semau-maunya, dia juga mengeluh mahalnya kebutuhan dalam mendukung berjualan. Terutama harga bawang merah yang sekarang lagi naik.
Kadang-kadang pembeli bakwan, maunya daun bawang dan bawang goreng itu lebih banyak. Terpaksa kami berikan saja, walau dalam hati menjerit. Hehe.
Ingat apa yang diomongkan penjual Bakwan Malang, tak jauh dari pasar Jalan Manunggal, saya mencoba mencocokkan salah satu penjual sembako di pasar itu.
Saya beli bawang merah Bu, kata saya. Pak sudah bedami harganya itu, kata penjual dengan logat khas bugis. Saya hanya senyum-senyum.
Ada tiga jenis yang harganya tiba-tiba berubah. Yakni wortel yang barang didatangkan dari luar daerah. Tomat buah juga sama, dipasok pedagang dari Pare-Pare. Termasuk Bawang Merah. Kalau minggu lalu masih dapat harga Rp 50 ribu, sekarang harganya Rp 75 ribu, kata pedagangnya.
Bisa jadi dampak dari kenaikan harga BBM jenis Pertamax. Yang lain pun ikut-ikutan naik. Moga saja speedboat wisata ke Maratua dan Derawan tidak menggunakan jenis Pertamax. Kalau ia, biaya angkut wisatawan bisa ikut-ikut terdampak. Bisa pusing lagi Pak Yuda, Kadisbudpar. (sam)
@daengsikra.id