Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Hujan Sejam Jadi Kolam Besar: Mengapa Depan Kantor DPRD Berau Selalu Terjebak Genangan Air?

Nurismi • Kamis, 4 Juni 2026 | 18:40 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

SAYA juga pernah mengalami, bagaimana air setinggi mata kaki masuk ke dalam rumah. Semua serba cepat. Berlangsung tengah malam. Sedih rasanya.

Di Warung Pojok, kemarin itu sepintas juga bercerita soal genangan. Genangan yang pernah dialami oleh mereka. Tapi, kata mereka tidak separah sekarang. Hujan stumat (sebentar) saja, sudah genangan di mana-mana.

Pengunjung Warung Pojok pun bercerita, bagaimana wajah kota ketika semua drainase belum tertutup seperti sekarang. Kita  masih bisa melihat iwak haruan di parit, kata salah seorang pengunjung sambil tertawa.

Memang kada nyaman keliatannya, kata salah seorang pengunjung warung. Tapi, disaat hujan lebat, mengatasinya cepat.

Saya ingat kalimat teman saya yang pernah memimpin kantor Badan Lingkungan Hidup. Dia menyebut bahwa di Berau ini tingkat sedimentasinya cukup tinggi. Bukan lumpur, tapi pasir yang mengendap keras di dasar parit.

Mungkin karena demikian kondisinya. Pemkab yang sempat membeli mobil bermesin penyedot lumpur tidak bisa bekerja maksimal. Akhirnya tidak bisa mengatasi kecuali dengan menggalinya.

Maka, terlihatlah sesekali petugas kebersihan mengerahkan semua tenaganya untuk menguras lumpur yang terpendam di dasar parit.

Lalu, demi tampak estetis, ditutuplah hampir semua jalur drainase hingga ke wilayah sekitar kantor DPRD,
Drainase tertutup dan hanya diberi lobang kontrol pada jarak tertentu. Kata teman saya, itu bukan lobang kontrol, tapi lobang intip.

Yang menarik. Karena sebelum tertutup para komunitas pemancing di parit, maka setelah trotoar tertutup. Mereka tetap berupaya memancing melalui lobang intip itu tadi. Ada seni juga, kata teman saya Marten yang hobi mancing di parit.

Suasana jadi lain ketika hujan satu jam saja, genangan di depan kantor DPRD menjadi kolam besar, debit air tak sanggup tertampung oleh drainase di sisi jalan.

Pergerakan air memang tidak deras menuju sungai. Berkali-kali dilakukan perbaikan, tapi tetap saja tak bisa menjawab persoalan genangan air hujan.

Mahasiswa pun jadi muyak. Langsung melakukan orasi di malam hari, di tengah-tengah air yang tak bisa dilalui kendaraan roda dua. Mahasiswa  mengkritik pola penanganan genangan air yang seakan tak bisa menemukan jalan keluarnya.

Bukan hanya di depan kantor DPRD. Tak jauh dari situ, di Jalan Kedaung dan arah menuju Teluk Bayur juga demikian.
Bagaimana mengatasinya? Kendaraan pengisap lumpur tak berdaya melakukan tugasnya. Apa perlu redesign? Teserahlah. Yang penting depan kantor DPRD tak lagi selalu jadi keluhan disaat hujan turun. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Catatan #Daeng Sikra