MASIH haruskah kita belajar bagaimana menggelar even seperti tourism? Bagaimana agar banyak yang datang? Dan, bagaimana dampaknya bagi kegiatan ekonomi?
Berau pernah mengadakan acara serupa di Bidukbiduk dan Pulau Maratua. Dampaknya juga dirasakan bagi pelaku ekonomi setempat.
Empat tahun lalu, saya ke Makassar. Sepanjang Pantai Losari terpasang umbul-umbul dan baliho beruluran besar `Makassar Half Marathon 2022` MHM. Rupanya tahun itu petama kali event itu dimulai.
Saya datang bukan sebagai peserta. Hanya penikmat wisata saja. Mencermati sebuah hajatan olahraga yang dampaknya sangat besar dirasakan bagi perekonomian di ibukota Provinsi Sulawesi Selatan itu.
Saya membayangkan. Bagaimana laris manisnya UMKM sepanjang Pantai Losari. Bagiamana kewalahannya warung Coto Makasar dan Warung Konro melayani para peserta MHM itu.
Maklum, pertama digelar saja, jumlah pesertanya sudah ribuan. Di antaranya datang dari luar kota Makassar. Semua hotel yang ada di sekitar radius Pantai Losari penuh sesak.
Dalam tiga hari dalam akhir pekan itu, bisa dihitung berapa pemasukan yang didapatkan di sektor pendukung pariwisata. Belum lagi toko yang menawarkan oleh-oleh khas daerah.
Akhir pekan lalu, even MHM itu digelar lagi. Untuk keempat kalinya. Teman saya yang ikut jadi peserta kewalahan mendapatkan tempat menginap. Sampai-sampai, harus bermalam di hotel yang lokasinya cukup jauh. Apa boleh buat.
Banyak runners Berau yang ikut, kata teman saya Iwan yang tinggal di Makassar. Tahun ini saya tidak ikut. Tapi untuk tahun depan, saya mulai nabung untuk ikut, kata Wawan, staf Prokopim Pemkab.
Sport tourism punya komunitas sendiri. Kalau penyelenggara melibatkan banyak pihak. Dan berorientasi memajukan wisata daerah, saya sangat yakin bila pola MHM diterapkan di Berau bisa mendatangkan manfaat dan hasil melimpah.
Kata teman, bisa saja di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata itu dilengkapi dengan pejabat struktural yang khusus menangani even, mungkin saja kepala seksi event, namanya. Hehe.
Memang event lah jadi salah satu penentu ketertarikan wisatawan untuk datang. Pun dengan event budaya, bagaimana mengemasnya dengan apik. Sehingga banyak yang datang untuk ingin tahun sambil berwisata.
Saya membayangkan, peserta dari Makassar itu pulang tentu tidak dengan tangan kosong. Masing-masing membawa oleh-oleh khas.
Baik berupa camilan, bumbu instan coto, dan minyak tawon. Memang inilah salah satu tujuan menggelar sport tourism tersebut.
Dan dengan event besar, bisa menjadikan maskapai semakin betah untuk terbang ke Bandara Kalimarau di Berau. (sam)
@daengsikra.id