YANG dinantikan oleh perusahaan, tak lain hasil dari penilaian Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan PROPER.
Ketika hasilnya baik atau sebutlah proper emas atau hijau, pemberitaan di media pada halaman depan dengan foto juga besar.
PROPER adalah sistem penilaian nasional yang mengklasifikasikan kinerja lingkungan perusahaan ke dalam lima warna: Hitam, Merah, Biru (Compliance), Hijau, dan Emas (Beyond Compliance).
Tujuannya bukan hanya memastikan terpenuhinya regulasi, tetapi juga mendorong inovasi berkelanjutan di sektor industri.
Perusahaan harap-harap cemas. Menantikan warna apakah gerangan yang diraih dalam satu periode. Mereka tidak pernah berharap mendaparkan warna merah. Apalagi warna hitam.
Pekan lalu sungguh penuh ironi. Ada sepuluh perusahaan mendapat rapor `merah`, satu tingkat di bawah warna hitam dalam penilian final propernya. Kenapa bisa?
Perusahaan menunggu hasil kerja tim Proper. Penuh harap tak ada catatan yang bisa menurunkan citra pengelolaan lingkungan, setidaknya perusahaan tidak meraih warna merah.
Soal siapa saja perusahaan yang berlokasi di Berau itu, sudah bisa ditemukan di media sosial. Kepala dinas lingkungan juga sudah memberi respons. Respons yang menjadi kewenangannya.
Padahal dari daftar peraih rapor merah itu adalah perusahaan yang tahun-tahun sebelumnya mendapatkan hasil rapor yang bagus. Minimal mereka dapat hasil hijau.
Lebih ironi lagi, ada perusahaan daerah yang harusnya jadi contoh dalam pengelolaan lingkungan, juga masuk dalam daftar peraih rapor merah.
Banyak yang menilai bahwa faktor lingkungan tidak lagi menjadi prioritas lagi bagi perusahaan.
Ketika sepuluh perusahaan mendapat proper merah, justru instansi seperti BLH juga merasa ikut bikin merah telinga. Sebab, mereka secara berkala turun lapangan memeriksa bagaimana penanganan lingkungannya.
Secara moral ikut bertanggungjawab. Kinerja perusahaan juga jadi gambaran kinerja perusahaan instansi pembinanya.
Walau pun penilaian itu bukan sepenuhnya tunggal di instansi ini, namun dianggap dialah paling paham dan bertanggungjawab.
Mengapa sampai mendapatkan rapor merah? Itu sama artinya pembinaan yang dilakukan juga tidaklah seperti tahun-tahun sebelumnya.
Bagaimana pun hasilnya sudah diumumkan. Rapor Merah itu sudah menjadi penilaian publik. Pemkab juga mendapat biasnya.
Banyak yang menunggu reaksi petinggi di daerah yang selama ini banyak bicara soal lingkungan. Menunggu kapan bupati marah-marah. (sam)
@daengsikra.id