PADA acara Konvensi Nasional Media Massa di Padang (2018), Dahlan Iskan menyampaikan `Nanti akan banyak wartawan yang keluar dari koran, lalu bikin media sendiri. Media online.`
Bagi Pak Dis (Dahlan Iskan), media cetak dan media online adalah dua era yang memiliki karakteristik berbeda.
Dia memandang media cetak sudah memasuki fase senja (sunsed) dan posisinya tergeser. Namun tidak sepenuhnya mati, asalkan mampu berinovasi.
Ada strategi `Bikin Kangen` kata Pak Dis. Dia meyakini, koran tidak akan mati jika kontennya diubah secara radikal. Media cetak tidak bisa lagi mengandalkan berita peristiwa harian (karena sudah lebih cepat online).
Harus menyajikan analisis mendalam, bahasa yang renyah dan informasi yang membuat pembaca `kangen` untuk membacanya.
Ketika banyak bermunculan media online. Prediksi pun ada dimana-mana. Menyebutkan bahwa media cetak seperti Berau Post akan tergerus dalam persaingan.
Dua hari lalu (20/5), Berau Post merayakan ulang tahunnya yang ke-14. Tak ada pesta meriah. Tak ada panggung artis di lapangan terbuka. Tak ada doorprize seperti yang pernah dilaksanakan di awal hadirnya.
Hanya sebuah pesta sederhana. Pesta di halaman depan kantornya. Ada pemotongan tumpeng. Dan potongan tumpeng itu diserahkan ke sang pimpinan redaksi. Itu saja. Lalu, ada doa bersama.
Sesudah acara sederhana itu, kegiatan foto bersama-sama antara sesama wartawan. Termasuk wartawan yang pernah mendapat ilmu jusnalistik, dan kini sudah mandiri dengan medianya masing-masing.
14 tahun itu bukan waktu yang singkat untuk tetap berdiri sebuah media di tengah persaingan. Berau Post juga mengalami irama naik dan irama menukik.
Tetap eksis di tengah hiruk pikuk media online (seperti yang disebut Dahlan Iskan) adalah sebuah prestasi. Sangat paham akan selera pembacanya.
Walau harus berkejaran waktu. Walau harus bersaing dengan media online. Media teman yang sekaligus jadi pesaing.
Saya ingat kalimat salah seorang sahabat saya yang sekarang masih memimpin satu instansi. Dia bilang, bagaimana pun Berau Post sebagai media cetak akan tetap dirindukan pelanggannya.
Walau banyak media online, saya tetap menunggu Berau Post yang terselip di pintu pagar rumah, kata teman saya itu. Seperti saya juga. Hahaha.
Pak RT di belakang rumah, ketika ada berita yang menarik, selalu jadi bahan diskusi di atas trotoar. RT memang menjadi salah satu pelanggan koran. Secara khusus diberikan, agar mereka melek nformasi.
Selamat ulang tahun ke-14 Berau Post. Semoga terus berada di tengah-tengah warga yang selalu haus akan informasi.
Yang selalu bikin rindu pembacanya. Seperti tulisan kecil di halaman depan, Membawa Informasi, Memberi Inspirasi. (sam)
@daengsikra.id