Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Turis Singapura di Maratua vs Tangisan Pekerja Tambang Akibat Pemangkasan RKAB

Nurismi • Kamis, 21 Mei 2026 | 18:00 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

GUNAWAN, pemilik Green Nirvana Resor di Pulau Maratua terlihat sibuk. Dia turun langsung mengatur tamunya yang akan liburan ke pulau.

Ada dari Jakarta, ada juga dari Singapura, begitu kata Gunawan. Sementara petugas Dinas Perhubungan, tak kalah sibuknya mencatat kedatangan wisatawan. Hal itu sekaligus sebagai daftar penumpang (manifes) dalam setiap pergerakan speedboat.

Harusnya mendampingi Dinas Perhubungan, ada juga dari instansi teknis lainnya seperti Dinas Pariwisata hadir disaat banyak tamu yang akan berkunjung ke destinasi wisata. Bisa saja tamu itu bertanya tentang destinasi wisata. Lalu siapa yang akan memberi jawaban pasti dan lengkap.

Saya berada di dermaga wisata melihat kesibukan kunjungan di luar akhir pekan. Ada beberapa tamu asing yang duduk di ruang tunggu menanti giliran keberangkatan.

Green Nirvana Resor menurunkan langsung speedboat yang berukuran besar dengan muatan belasan orang itu. Ini tidak mengikuti antrean, sebab langsung merupakan tamu resor.

Wisatawan asal Singapura itu tampak menenteng perlengkapan kamera bawah laut. Rupanya, di antara mereka itu fotografer bawah laut.

Bawah laut Maratua, untuk mendapatkan gambar makro, biasanya wisatawan memilih menyelam di malam hari.

Banyak objek foto yang hanya keluar dimalam hari. Tak jauh lokasinya, sekitar resor sudah bisa mendapatkan hasil gambar yang lumayan cantik.

Setelah melihat situasi di dermaga wisata, saya bergeser ke Warung Kopi Pojok. Jam 10.00 wita, masih banyak pengunjung setia terlihat asik bercerita.

Mereka di antaranya adalah pekerja di perusahaan tambang batu bara. Tahun ini, semua pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) menangis tanpa banyu mata Daeng, kata teman saya yang bekrja di perushaan tambang yang lokasinya di Kecamatan Segah.

Bagaimana tidak, Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang menjadi tumpuan harapan perusahaan pertambangan mengalami pemotongan kuota. Pokoknya semua perusahaan kecuali pemegang izin PKP2B bisa menangis Daeng, kata teman itu.

Masalahnya RKAB yang merupakan `kompas plus izin jalan` untuk menambang, dikurangi banyaknya. Makanya, hampir semua perusahaan yang mendapat pengurangan RKAB, bermuara pada pengurangan tenaga kerja.

Tenaga kerja hasil rekrut dari luar daerah dipastikan akan kembali ke daerahnya. Dan, rekrutan lokal ini yang perlu mendapat perhatan dari pemerintah kabupaten. Kemana mereka kelak bila diberhentikan karena pengurangan tenaga kerja tambahnya.

Imbas kondisi ekonomi secara nasional, ditambah pengurangan tenaga kerja otomatis meningkatkan angka pengangguran. Bagaimana mengatasinya, ini yang perlu mendapat perhatian bersama. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Catatan #Daeng Sikra