RASANYA dunia pariwisata Berau berbunga-bunga. Saat itu, maskapai AirAsia memulai terbang berjadwal ke Bandara Kalimarau.
Belumlah terlalu lama. Rasa sumringah itu berubah sebaliknya. Maskapai AirAsia harus menyerah. Buat sementara tidak lagi melakukan penerbangan berjadwal ke Bandara Kalimarau.
Pasti paahamlah penyebabnya. Dampak dari sebuah keputusan yang menaikkan harga bahan bakar pesawat (Avtur). Atas pertimbangan itulah, bisa jadi dua bulan ke depan warga Berau tidak bisa lagi melihat wajah pesawat yang dominan warna merah itu.
Ini keputusan bisnis maskapai. Pemkab tidak bisa mengintervensi, kata Wakil Bupati Berau, Gamalis. Bagaimanapun terhentinya penerbangan itu merupakan pukulan berat bagi daerah. Khususnya dalam pengembangan pariwisata.
Hari Sabtu (2/5), saya terbang dari Bandara Hasanuddin menuju Kalimarau. Jadwal yang rencananya jam 12.00 wita, dimajukan ke jam 10.00 wita. Terbang lebih awal. Ke bandaranya pun harus lebih awal juga.
Saya selalu bersyukur ketika maskapai Sriwijaya memilih terbang langsung dari Kalimarau ke Bandara Hasanuddin di Makassar. Setidaknya membantu warga yang ingin pulang kampung.
Jumlah penumpang masih di atas 60 persen. Kondisi demikian, maskapai masih bisa bertahan. Dan harga tiket pun sudah disesuaikan. Per hari Sabtu itu, harga tiketnya Rp 1,7 juta.
Yang bkin saya sedih, di media sosial kemarin ada seorang penumpang Sriwijaya yang marah tidak ketulungan. Sudah menunggu lama. Bahkan menunggu hingga malam, ujung-ujungnya penerbangan dibatalkan.
Seperti itulah situasinya. Maskapai tentu tidak bercerita, apa yang mereka hadapi dalam tiga bulan terkahir. Tidak bercerita ketika memutuskan pembatalan penerbangan. Namun kita bisa memprediksi, bahwa persoalan harga bahan bakar menjadi biang penyebabnya.
Maskapai tentu lebih memilih tidak terbang, ketimbang terbang dalam posisi rugi. Ini kan urusan bisnis. Itu juga sudah diakui Gamalis.
Bandara Kalimarau harus menerima kenyataan. Beda dengan dengan bandara di Balikpapan dan Samarinda. Selain tingkat keterisian penumpang lebih banyak, juga dua tujuan itu merupakan jalur `gemuk` dunia penerbangan.
Yang paling terasa, tentulah dunia pariwisata. Khususnya wisatawan mancanegara. Mereka punya jadwal waktu yang ketat. Bila ada situasi seperti itu, perlu langkah pendekatan kepada pemerintah pusat di Jakarta.
Tersisa Sriwjaya dan Lion Grup yang masih tetap bertahan. Itupun sering mendapatkan keluhan penumpang dengan jadwal yang sering berubah.
Bagaimanapun tak perlu pesismistis. Pemerintah kabupaten pastilah akan melakukan berbaga upaya. Agar maskapai tetap melakukan penerbangan berjawalnya dari dan ke Bandara Kalimarau.
Bagi Pemkab memang serba salah juga. Dari sisi penerbangan terdampak dengan harga bahan bakar pesawat. Sementara Pemkab sendiri menghadapi Efisiensi anggaran. Dimana perjalanan dinas luar daerah mengalami pengetatan. (sam)
@daengsikra.ia