Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Tak Perlu ke Iran! IAS dan Ustaz Das’ad Latif Ungkap Kehadiran ‘Selat Hormuz’ di Jantung Kota Makassar

Nurismi • Senin, 4 Mei 2026 | 18:05 WIB
WISATA: Naik perahu phinisi di selat antara CPI dan Pulau Lae-Lae yang disebut seperti Selat Hormuz. (DOK PRIBADI)
WISATA: Naik perahu phinisi di selat antara CPI dan Pulau Lae-Lae yang disebut seperti Selat Hormuz. (DOK PRIBADI)

MANTAN Wali Kota Makassar, Ilham Arif Sirajuddin (IAS) tampil di akun TikToknya ustaz kondang Das'ad Latif. Lokasinya di kawasan Center Point of Indonesia (CPI) di Makassar, kemarin.

Biasalah, sambil jalan cepat kedua tokoh Sulawesi Selatan ini sambil berbincang. Bukan bicara politik. Bukan soal kans IAS kembali memimpin Partai Golkar di Sulawesi Selatan. Bukan pula soal di mana Das'ad Latif diundang ceramah.

Ada yang saya tangkap dari pembicaraan sambil jalan kaki itu. Mereka menyebut `Selat Hormuz`. Kita hebat, bukan hanya di Iran yang ada Selat Hormuznya. Di Makassar juga ada, kata IAS sambil tertawa.

Selat Hormuz yang sekarang ramai dibicarakan antara Iran dan Amerika itu, adalah selat yang sempit antara Teluk Persia dan Teluk Oman (laut Arab).

Di mana? Dalam kawasan CPI itu, salah satu sudutnya terlihat sangat dengan dengan Pulau Lae-Lae. Di antara CPI dan Lae-Lae itulah yang disebut IAS dengan nama Selat Hormuz.

Saya ingat dua pekan lalu, saya melakukan perjalanan dengan kapal kayu tujuan Pulau Kodingareng. Salah satu pulau yang masuk dalam gugusan Pulau Spermonde di Sulawesi Selatan.

Jarak tempuh ke pulau berjarak 20 mil itu hampir satu jam. Maklum, kapal kayu yang penuh penumpang itu hanya bermesin Izuzu dengan kekuatan sedang. Perahu ini biasa disebut perahu `biseang papalimbang` atau perahu penyeberangan.

Bagi masyarakat Pulau Kodingareng, perahu adalah urat nadi. Punya manfaat luar biasa. Segala keperluan, warga biasanya berbelanja di Makassar dengan tarif Rp 30 ribu pergi dan pulang.

Dalam perjalan, ketika berada di antara CPI dan Pulau Lae-Lar yang semakin dekat itu, saya juga sempat membayang saat itu kok tempat yang dilalui itu mirip `Selat Hormuz`.

Banyak kapal yang parkir. Mungkin 20 kapal yang memilih parkir di titik yang lebih jauh dari kawasan pelabuhan. Puluhan kapal ini menunggu giliran. Ada yang menunggu giliran bogkar dan muat. Ada yang setelah bongkar, memilih parkir di luar pelabuhan.

Memang menjadi pemandangan menarik. Dan dari kawasan CPI, jejeran kapal itu menyerupai kesibukan di Selat Hormuz. Apalagi di Makassar, warganya paling kreatif menafsirkan sesuatu istilah. Makassar itu warganya kaya istilah. Pantai Losari saja sekarang disebut Panlos.

Selain melewati antara CPI dan Pulau Lae-Lae, saya juga pernah berdiri di ujung CPI yang sebagian lahannya adalah hasil reklamasi. Terlihat jelas jejeran kapal itu. Pun terlihat bagaimana kesbukan nelayan pancing disekitar tempat itu.

Makanya, secara spontan IAS menyebut selain CPI itu sebagai tempat rekreasi warga Makassar di hari Sabtu dan Minggu.

Tak perlu jauh-jauh ke Iran untuk melihat selat Homuz itu. Ke CPI saja, Selat Hormuz dengan mudah dipandang dari dekat. Tapi tidak ada kapal perangnya. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Catatan #Daeng Sikra