Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Dulu Lahan Kosong Kini Jadi RS Megah: Solusi Kesehatan Berau yang Berwawasan Lingkungan

Nurismi • Kamis, 30 April 2026 | 07:05 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

PEKAN ini ramai pemberitaan sekitar akan hadirnya rumah sakit yang baru tuntas dikerjakan. Kabarnya akan diresmikan pertengahan bulan ini, bersamaan dengan hari kebangkitan nasional.

Lokasinya di tepi jalan berada sedikit di ketinggian. Lahan yang dulunya kosong, sekarang dipenuhi permukiman penduduk. Berdekatan dengan Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) sampah.

Saya membaca di berbagai media, betapa sibuknya seorang bupati ingin segera mendorong agar rumah sakit yang baru itu segera dioperasikan. Segera memberi layanan kepada masyarakat.

Memang punya alasan. Bukankah salah satu visi dan misinya, adalah meningkatkan sarana dan prasarana publik yang berkualitas adil dan berwawasan lingkungan.

Sejak awal pengerjaannya, menjadi topik menarik untuk dibahas. Baik di antara pejabat Pemkab, antara anggota DPRD, maupun para praktisi. Termasuk LSM yang memberi sorotan tajam.

Usia dan keberadaan RSUD Abdul Rivai memerlukan hadirnya rumah sakit yang baru yang lebih besar. Lebih nyaman pelayanannya. Lebih ramah. Pun kelasnya naik setingkat lebih tinggi.

Walau tak selalu terjadi ledakan pasien. Tapi, terkadang ada situasi di mana pasien terpaksa diinapkan di lorong, karena ruangan penuh terisi.

Kalau sudah begitu, posisi manajemen RS adalah pihak yang paling disalahkan. Apapun jawaban seorang direktur. Tak pernah benar.

Saya membayangkan, ketika rumah sakit masih menggunakan bangunan yang ada di Jalan Batumiang. Saya membayangkan, ketika rumah sakit tak punya obat oralit mengobati pasien yang terserang muntaber. Saya membayangkan ketika ujung sprei, terpaksa dijadikan perban penutup luka.

Ketika Almarhum Arifin Saidi jadi bupati. Ketika almarhum Pak Masdjuni memimpin daerah ini dan saat Pak Makmur bersama Achmad Rifai mendapat kepercayaan orang pertama di Berau, selalu saja layanan rumah sakit jadi urutan pertama dari sekian banyak keluhan masyarakat.

Maka, berfikirlah Pak Makmur u tuk membangun sebuah fasilitas layanan kesehatan yang baru yang namanya rumah sakit. Sebagai pengembangan dari rumah sakit Abdul Rifai.

Saya diajak serta melihat-lihat salah satu rumah sakit di Jakarta, yang bisa dijadikan inspirasi bentuk bangunan dan berbagai fasilitasnya. Waktu itu didampingi dokter Tommy dan dokter Rina yang pernah betugas di Berau.

Lahannya? Ya, di lokasi yang dibangun rumah sakit sekarang ini. Lahan milik PT Inhutani I.

Sekali waktu, saya sempat berbincang dengan sahabat saya, Pak Didi. Waktu itu menjabat sebagai orang pertama di perusahaan BUMN tersebut. Silakan Pak Sikra kalau Pemkab mau memanfaatkan lahannya, begitu kata Pak Didi saat itu.

Kalimat bos PT Inhutani I di Jakarta itu saya sampaikan pada Pak Makmur. Dan masa pengabdian berakhir. Tapi semangat membangun rumah sakit tetap berlanjut.

Almarhum Pak Muharram sempat memilih tempat berjauhan dari lokasi sekarang. Berdekatan dengan arah ke Bandara Kalimarau. Bahkan sempat ditawarkan (gratis) untuk membangun di lahan milik warga di Kecamatan Sambaliung.

Tidak jadi alasannya jauh dan ada jembatan. Akhirnya, kembali ke laptop. Kembali ke lokasi yang statusnya milik PT Inhutani I.

Kini bangunan itu selesai dikerjakan. Bupati dengan penuh semangat maunya agar bulan depan (Mei) bisa diresmikan.

Memang masih ada persoalan yang mesti diselesaikan. Soal perizinan. Soal nama rumah sakitnya. Soal SDM-nya dan soal status lahannya. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#RSUD Tanjung Redeb #Catatan #Daeng Sikra #pelayanan kesehatan