Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Bukan Cabang Biasa! Rahasia Coto Makassar Daeng Tayang Sampai 'Go International' ke Berbagai Negara

Nurismi • Rabu, 29 April 2026 | 08:45 WIB
DISKUSI: Daeng Tayang dan Daeng Sikra diskusi soal Coto Makassar. (DOK PRIBADI)
DISKUSI: Daeng Tayang dan Daeng Sikra diskusi soal Coto Makassar. (DOK PRIBADI)

BAGAIMANA ceritanya Coto Makassar bisa go internasional. Apa penjualnya buka cabang di luar negeri?
Hari Minggu (26/4) lalu, saya mampir di salah satu penjual Coto Makassar yang cukup terkenal dan banyak penggemarnya. Lokasinya di Jalan Sultan Hasanuddin. Namanya Coto Makasar asuhan Daeng Tayang.

Warungnya di pinggir jalan protokol. Jam 09.00 wita pagi, sudah buka. Langsung diserbu pelanggannya. Pagi-pagi sudah di warung coto. Artinya, mereka sarapan dengan coto. Hehe, termasuk saya juga.

Saya harus berdiri di depan pintu selama 10 menit. Menunggu pengunjung selesai dan meninggalkan tempat duduknya.

Setelah dapat tempat duduk, barulah pelayannya datang. Menanyakan komposisi yang diinginkan. Maksudnya komposisi isian cotonya. Teman saya pesan pipi dan lidah.

Maksudnya daging bagian pipi sapi dan lidahnya. Saya pesan jantung dan daging. Kalau disingkat Janda. Hehe.

Harus pandai meracik untuk mendapatkan rasa yang tepat. Mulai dari perasan jeruk. Tambahan garam kalau kurang asin dan terakhir tambahan sambal tauconya. Sambal ini yang menentukan rasa.

Semua soal rasa. Teman saya yang sudah lama menetap di Makassar, tidak punya angka pasti berapa banyak yang jualan coto. Yang pasti ada beberapa yang cukup dikenal, karena promosi media sosial.

Sebutlah Coto Nusantara. Coto Daeng Tata yang buka cabang di Casablanca, Jakarta. Ada coto yang jualan di Jalan Landak, namanya Coto Landak, Coto Depag di Jalan Nuri, Coto Ranggong di Jalan Ranggong, dan Coto Daeng Tayang yang saya kunjungi hari minggu itu.

Konsumenlah yang menentukan mana yang mereka minati. Mana yang cocok di lidahnya. Ada yang tertarik karena sambalnya. Ada karena kuahnya. Ada pula karena ketupatnya yang gratis hehe.

Saya makan dua mangkok coto, empat ketupat dan satu air mineral harganya Rp 70 ribu. Termasuk murahlah dibanding harga coto di dekat Pelabuhan Teratai, di Tanjung Redeb.

Daeng Tayang pagi itu bertugas jadi kasir. Saya ikut antrean. Bagaimana rasanya Daeng, kata Daeng Tayang. Pelanggan banyak datang artinya enak.

Katanya sudah buka cabang di Jakarta? Tanya saya. Iye, itu yang buka cabang anak saya, jawabnya. Bagaimana kalau buka di Kalimantan Timur? Kata saya. Dia tertarik. Walau dia paham kalau di Kaltim (Samarinda) sudah banyak yang jual coto.

Bagaimana kalau saya buka cabang di Samarinda? Daeng Tayang langsung menanyakan soal rute penerbangan.

Kalau naik pesawat, jam berapa bisa tiba di Samarinda? Tanyanya. Saya jawab saja, jam 2 sore sudah tiba. Oh boleh, kan tidak bermalamji, tambahnya.

Sepertinya, bekerja sama dengan Daeng Tayang, tetap bumbu dikirimkan dari Makassar. Termasuk sambal tauconya. Tinggal menyediakan tempat dan kebutuhan lainnya.

Di sela-sela berbincang dengan Daeng Tayang, dia lalu menunjukkan foto saat berada di luar negeri. Saya pernah diajak Dinas Pariwisata berkunjung ke beberapa negara untuk memperkenalkan Coto Makassar, kata dia.

Sudah go internasional mi Coto Daeng Tayang, kata saya. Dia hanya tersenyum. Alhadulillah, jawabnya singkat. Baik, nanti ada teman yang menelepon, yang berencana buka cabang di Samarinda. Dan saya pamit pulang. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Coto makassar #Catatan #Daeng Sikra