Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Enggan Dipindah! Mahasiswa Berau di Makassar Pilih Bertahan di Jalan Perintis Meski Tertutup Pedagang

Nurismi • Selasa, 21 April 2026 | 18:05 WIB
MAMPIR: Penulis menyempatkan berbincang bersama  mahasiswa penghuni asrama Berau di Makassar. (DOK PRIBADI)
MAMPIR: Penulis menyempatkan berbincang bersama  mahasiswa penghuni asrama Berau di Makassar. (DOK PRIBADI)

ADA kabar, bahwa asrama pelajar dan mahasiswa Berau di Makassar akan dipindah ke lokasi yang baru. Alasannya, asrama putra itu lingkungannya sudah kada nyaman.

Berita itu tidak membuat penghuni asrama mahasiswa merasa gembira. Justru mereka berharap tidak usah dipindah. Kami tidak usah dipindah.

Cukup diperbaiki dan dipercantik saja, kata salah seorang mahasiswa asal Kampung Biatan, Berau, yang menetap di asrama.

Kemarin itu, saya sempat kebingungan. Seingat saya, posisi asrama itu tak jauh dari pasar. Itu ketika saya bersama Pak Makmur, HAPK (mantan Bupati) berkunjung ke asrama.

Terpaksa harus bertanya. Rupanya, tampilan depan wajah asrama tidak terlihat. Tertutup payung pedagang sembako. Payung itu menutup papan nama asrama.

Saya masuk saja. Di parkiran banyak kendaraan. Dalam hati saya, penghuninya banyak juga. Ternyata motor bukan milik penghuni asrama. Motor milik pedagang yang numpang parkir di teras asrama.

Yang saya lihat seperti belasan tahun lalu, tak banyak berubah. Maklum, pernah menjalani perbaikan, tapi hanya perubahan warna cat.

Kami penghuni asrama tak banyak lagi. Sudah ada yang lulus dan sudah pulang ke Berau, kata salah seorang penghuni asrama. Dia kuliah di Univeritas Muslim Indonesia (UMI) jurusan teknik industri.

Pernah mendengar rencana pembangunan asrama yang baru? Pernah pak. Tapi lokasinya yang lumayan jauh. Kalau bisa asrama di Jalan Perintis ini tetap dipertahankan, kata mereka.

Alasannya? Banyak mahasiswa yang kampus atau tempat kuliahnya tak jauh dari Jalan Perintis (alamat asrama Berau). Kalau pindah di tempat yang jauh, kasian juga, ungkapnya.

Saat sekarang, jumlah mahasiswa asal Kabupaten Berau tak kurang dari 300 orang. Mereka kuliah dari berbagai universitas. Ada yang memanfaatkan fasilitas asrama. Namun lebih banyak di indekos. Biasanya memilih indekos yang tak jauh dari kampusnya.

Bersyukur bahwa Pemkab memberi perhatian banyak. Termasuk urusan listrik dan air. Semua ditanggung Pemkab, kata mereka.

Namun, mereka berharap bisa diberikan beasiswa. Kalau dari Gratispol, hanya diberikan pada satu orang mahasiswa saja pak, ungkapnya.

Duduk di sofa warna biru yang sudah robek, penghuni asrama berharap ada perubahan wajah asrama. Termasuk penambahan mebelair serta peralatan dapur. Kami memang lebih memlih masak sendiri, demi penghematan, tambahnya.

Tak lama saya berbincang dengan tiga mahasiswa yang menerima saya saat mengunjungi asrama. Mereka titip salam buat bupati dan wakilnya. Sekali-sekali, Bu Bupati menjenguk kami di Makassar, tambahnya.

Sebelum meninggalkan kawasan Jalan Perintis I. Saya menegur pedagang sayur mayur yang jualan di pinggir pagar asrama.

Bersihkan bu, jangan melindungi papan nama asrama, kata saya dalam bahas Makassar. Iye pak, iye pak, sambil menyapu. Hehe, mungkin dikira pejabat dari Berau. Padahal mantan ji. Hahaha. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Catatan #asrama mahasiswa #Daeng Sikra