GANG? Di Makassar tidak digunakan sebutan gang, yang populer sebutannya lorong. Makanya dulu ada program lorong wisata. Lorong atau gang yang didandani oleh warga.
Bukan hanya didandani saja, ada juga yang menjadikan sebagai wisata kuliner. Warga rela datang. Rela antre. Rela menunggu lama.
Direktur RSUD Abdul Rivai, dr Jusram dan siapa pun yang pernah lama di Makassar, pasti sering berkulineran di wilayang lorong.
Ada dua tempat yang populer di Makassar. Bahkan sudah ada sejak saya masih di SMA dulu. Namanya sop ubi lokasinya di lorong Jalab Datu Museng. Kalau di Berau, pastilah namanya sop singkong.
Di lorong yang sempit, di rumah dengan arsitek khas Sulawesi, pemilik rumah Hj Haniah menjadikan rumahnya sebagai tempat berjualan sop ubi. Sudah hadir di Makassar sejak tahun 1963.
Karena legennya itulah, pencinta kuliner almarhum Pak Bondan secara khusus pernah berkunjung ke dalam lorong ini. Menikmati sop ubi. Fotonya ada terpasang di salah satu dinding.
Saya masih ingat dan barangkali juga dalam ingatan pembaca yang pernah mengisi percintaan masa remaja, warung sop ubi ini jadi saksi bisu. Dulu sudah mengajak pacar atau kekasih makan Sop Ubi Hj Haniah, sudah mewah bujur rasanya. Termasuk yang pernah bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Stella Maris.
Selain Sop Ubi, ada juga yang jadi tujuan wisata kuliner wisatawan yang berkunjung ke Makassar. Sop kepala ikan di Jalan Mappanyukki. Rumah kecil dengan kursi terbatas, pengunjungnya setiap hari padat. Harus antre.
Jadi urusan tempat berjualan, tak lagi jadi alasan sepinya pengunjung. Seperti gado-gado yang ada di Sambaliung dan Gunung Tabur pun yang ada di Teluk Bayur, akan tetap dikunjungi warga. Biar wadahnya terselip digang, amun nyaman pasti warga datang. Bupati pun bisa datang jua.
Buat sekarang, bukan hanya memperhatikan Maratua, Derawan, dan destinasi wisata lainnya. Urusan wisata kuliner juga harus mendapat porsi perhatian khusus. Seperti Rumah Makan Patin di poros jalan menuju Teluk Bayur. (sam)
@daengsikra.id