KOMISI II DPRD Berau menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan salah satu SKPD mitranya. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Ini menjadi kegiatan pertama bagi Yudha Budisantoso, yang baru saja dilantik menakhodai kantar yang mengurusi soal kebudayaan, parwisata, dan ekonomi kreatif.
Pertemuan ini menjadi sangat menarik, mengingat sektor pariwisata akan menjadi tumpuan dan harapan bagi Pemkab kelak pasca-redupnya tambang batu bara.
Bagi Yudha Budisantoso, ini sekaligus bisa mendapatkan informasi dari peta pariwisata Berau dengan segala persoalannya.
Referensi peta persoalan pariwisata memang belum banyak saya pahami, begitu pengakuan Yudha,bKadisbudpar yang baru dilantik.
Komisi II DPRD yang mebidangi antara lain urusan pariwisata dan perdagangan serta BUMD, memberi semangat pada seluruh aparat dan mitra pariwisata agar bekerja cerdas, walau di tengah anggaran yang tidak terlalu menggembirakan.
Kita tahu, Komisi II ini dikomandani Rudi P Mangunsong, bersama anggotanya di antaranya Suharno,Agus Uriansyah,Sutami, Sujarwo, Sakirman, Dion, Suriansyah, dan Fasya Wisono.
Ada yang menarik dalam diskusi yang berlangsung di ruang rapat komisi II. Bahwa, sebagai destinasi wisata bahari berkelas Internasional, ada fasilitas yang wajib dimiliki.
Menurut Fasya Wisono, setidaknya di Pulau Maratua atau di RSUD Abdul Rifai yang baru, ditempatkan Hiperbarik Chamber oksigen. Ini penting, baik untuk para aktivitas peselam maupun untuk dukungan kesehatan, kata Fasya.
Diketahui, di Puskesmas Tanjung Batu ada Chamber yang ditempatkan ketika Berau jadi tuan rumah PON beberapa tahun lalu. Sayangnya, dalam lima tahun terakhir alat yang harganya Rp 7 miliar itu tidak difungsikan.
Ada yang mengusulkan dipindahkan saja ke Tanjung Redeb. Namun, ada yang mengusulkan agar tetap saja di Puskesmas Tanjung Batu.
Mengingat biaya evakuasi yang tidak sedikit. Tinggal mengirimkan tenaga operasional alat untuk mengikuti pendidikan dan latihan, ungkapnya.
Chamber yang ada di Tanjung Batu ketika beroperasi, sempat menjadi harapan bagi dunia pariwisata. Juga dunia kesehatan. Sebab, bila alat itu berfungsi maksimal, Puskesmas Tanjung Batu bisa menjadi pusat rujukan di Kalimantan.
Oleh pelaku wisata di Maratua dan Derawan, yang sering melakukan penyelaman, terpaksa melakukan terapi Oksigen di Rumah Sakit Pertamina di Balikpapan.
Agus Uriansyah memberi semangat pada jajaran Pariwisata dan seluruh mitra kerjanya, untuk tetap bekerja keras. Tetap melakukan upaya promosi ditengah situasi keuangan sekarang ini.
Terkait perkiraan akan meningkatnya harga tiket sebagai dampak naiknya harga Avtur, biarlah menjadi tugas istansi lain yang berwenang. Urusan harga tiket biar menjadi tugas Dinas Perhubungan, kata Agus Uriansyah. (sam)
@daengsikra.id