Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Belajar dari Makassar: Rahasia Sukses Tangani Sampah di Tengah Kota Tanpa Bau dan Tanpa Protes

Nurismi • Selasa, 14 April 2026 | 18:45 WIB
URUSAN SAMPAH: Penulis Bersama motivator pengelolaan sampah di Kelurahan Makassar Baru dengan atar belakang insinerator milik pemkot. (Dokumen pribadi)
URUSAN SAMPAH: Penulis Bersama motivator pengelolaan sampah di Kelurahan Makassar Baru dengan atar belakang insinerator milik pemkot. (Dokumen pribadi)

BERAU dan Makassar hampir tak ada beda. Punya kesamaan. Dua daerah yang sama-sama pusing memikirkan soal sampah.

Satu pusing memikirkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) harus pindah karena jadi penghambat beroperasinya rumah sakit yang baru.

Sedangkan di Makassar pusing, karena TPA-nya akan ditutup menyusul rencana membangun pembangkit listrik berbahan bakar sampah.

Bagaimana solusinya? Di Berau TPA harus pindah ke Kampung Pegat Bukur yang lumayan berjauhan dengan TPA awal.

Di Makassar bagaimana? Untuk urusan sampah diserahkan pengelolaannya masing-msing ke tingkat kecamatan. Camat menyerahkan ke masing-masing kelurahan. Kantor lingkungan hidup tak lagi ngurusi sampah.

Ada strategi pemerintah kotanya, setelah pelimpahan penanganan sampah itu. Camat dan lurah, ukuran kinerja dinilai sukses bila berhasil menangani urusan sampah. Ada lurah yang gagal dimutasi karena berhasil mengelola sampah.

Menangani sampah dalam wilayah kota, perlu seni tersendiri. Itu yang saya saksikan kemarin, di Kelurahan Makassar Baru.

Termasuk hebat. Kelurahan ini berkantor di salah satu sudut Lapangan Karebosi. Betul-betul di tengah jantung kota. Di lahan yang tidak terlalu luas itu, di tempat itu pula sang lurah bersama anak buahnya mengelola sampah.

Di belakang kator lurah, ditempatkan satu insinertor kapasitas 3 ton. Sebagai pendukung, juga dibentuk tim motivator yang tugasnya bertemu dengan masyarakat.

Memberi wejangan bagaimana mengelola sampah sejak dari masing-msing rumah warga. Sang motivator ini sebagai ujung tombak, kata Nanda, salah seorang petugas di kelurahan.

Saya melihat, di lahan yang tidak terlalu luas, ada kegiatan pemeliharaan ayam. Pengembangbiakan lalat ulat, kompos, serta ribuan botol plastik yang siap ditampung pembeli.

Menurut Nanda, pengelolaan sampah dengan menggunakan insinerator sudah teruji. Tak ada lagi limba asap. Semua melalui proses sesuai dengan keamanan dan kenyaman lingkungan.

Kita berada di tengah kota pak, dan lagi berdekatan dengan kediaman walikota jadi harus siap selalu, kata Nanda.

Saya pun membayangkan, kalau insinerator ditempatkan juga di Pulau Maratua, di wilayah pesisir, atau di masing-masing kecamatan yang bisa mengelola sendiri sampahnya.

Syukur-syukur kalau dijadikan ukuran kinerja para lurah. Pasti urusan sampah tak lagi membuat seorang bupati pusing memikirkan.

Memilah sampah organik dan bukan organik, menjadi hal yang harus terus menerus dikampanyekan. Sebab, bila pemisahan sampah ini berhasil dilakukan sejak dari rumah warga, maka separuh tugas mengatasi urusan sampah sudah berhasil. Justru itu dibentuk tim motivator, ungkap Nanda.

Botol kemasan yang berhasil dikumpulkan menjadi penghasilan sampingan bagi petugas pemungut sampah. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Catatan #Daeng Sikra