TIGA atau empat tahun lalu, saya jumpa kerabat Kesultanan Sambaliung. Ketemunya di rumah makan tak jauh dari tempatnya menginap di Makassar.
Karena beliau dari kerabat kesultanan, saya mengira-ngira saja. Kunjungan ke Makassar akan memperkaya data yang dimiliki pihak kesultanan.
Ternyata perkiraan saya tak salah. Pak Datu Kesuma, waktu itu mejelaskan singkat saja. Memang ke Makassar dan ke sejumlah tempat bersejarah untuk melengkapi data yang dimiliki kesultanan. Baik data primair dan sekundernya.
Tidak memperpanjang cerita kunjungannya, kami masing-masing asyik menikmati ayam goreng di warung yang berlokasi di Jalan Pattimura.
Pertemuan sekian tahun lalu itu, teringat lagi saat saya mengunjungi museum La Galigo dalam kompleks Fort Roterdam atau Benteng Penyu, kemarin.
Banyak yang tahu, La Galigo adalah sebuah epos metologi dari suku Bugis, di Sulawesi Selatan. Tokoh utamanya, Sawerigading, pahlawan yang gagah berani serta We Tenriabeng. Percintaan keduanya bagian cerita yang sangat terkenal dalam La Galigo.
La Galigo sudah diakui UNESCO sebagai warisan dokumentasi dunia pada tahun 2011 dan merupakan karya sastera paling berharga dari Indonesia.
Saya datang setelah jam istirahat kantor. Museum di bawah pengelolaan Dispar provinsi ramai dikunjungi pelajar. Sekadar mengingat kembali apa yang terdokumentasi di dalam museum La Galigo.
Apalagi saya mendengar informasi, akan ada pembuatan film panjang terkait kepahlawanan Radja Alam di Berau. Pastlah akan banyak memerlukan berbagai narasumber.
Benteng fort roterdam yang berada tak jauh dari laut itu, memiliki 16 bangunan di dalamnya. Ada 13 yang masih bardiri kokoh. Bangunan dengan gaya arsitektur Eropa.
Saya memasuki sayap kanan museum La Galigo. Berisi dokumen berkaitan dengan Kota Palopo dan beberapa benda sejarah berkaitan dengan kelautan. Saya hanya melihat di lantai dasar. Sementara di museum itu ada tiga lantai.
Kompleks museum yang lebih dari 2 hektare itu menjadi salah satu destinasi wisata yang paling diminati. Tak salah bila teman-teman di kantor Dispar menjadi salah satu rujukan mendapat kan banyak kisah perjalanan sejarah di Berau, khususnya kerabat Kesultanan Sambaliung.
Sebelum pulang, saya mampir di salah satu bangunan yang ada di pojok Kompleks Fort Roterdam. Ada tulisan, tempat Pangeran Diponegoro ditahan, atau penjara pangeran Diponegoro. Saat pintunya tidak terbuka, tak bisa menyaksikan suasana di dalamnya. (sam)
@daengsikra.id