BERAU POST — Petani di Kampung Tanjung Prengat, Kecamatan Sambaliung, berhasil panen padi, di tengah musim kemarau yang membuat ketersediaan air untuk pertanian terbatas.
Dari sekitar 150 hektare lahan yang berpotensi dikembangkan, sebagian kecil lahan masih dapat ditanami karena mendapat pasokan air dari sistem pasang surut Sungai.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini, mengatakan, pihaknya hadir memenuhi undangan gabungan kelompok tani (gapoktan) dalam kegiatan syukuran panen, belum lama ini.
Dikatakan, pola tanam padi di Kampung Tanjung Prengat dapat berlangsung dua hingga tiga musim dalam setahun.
Saat ini, petani berada pada periode musim gadu yang berlangsung sekitar Juni hingga Agustus. Namun, kondisi kemarau membuat ketersediaan air menjadi kendala utama bagi petani.
"Sayangnya karena kemarau ini susah mendapatkan air," katanya, Kamis (1/10).
Namun, sekitar 20 hektare lahan yang ditanami padi sebagian berhasil dipanen. Kondisi tersebut memungkinkan karena pengaruh pasang surut air sungai yang masih memberikan suplai air ke lahan pertanian.
“Secara simbolis kemarin kami ikut memanen padi di lahan seluas 2 hektare,” sebutnya.
Adapun setelah panen musim gadu, petani diharapkan dapat kembali mempersiapkan lahan untuk memasuki musim rendengan. Musim tanam tersebut biasanya dimulai pada Oktober hingga Desember. Namun, waktu tanam akan menyesuaikan kondisi cuaca dan ketersediaan air.
"Kita melihat musim hujan. Mungkin bergeser Oktober atau November baru tanam," ujarnya.
Pada panen kali ini, produksi gabah kering tercatat sekitar 3,5 ton per hektare. Jika dikonversi menjadi beras, hasil tersebut akan mengalami penyusutan. Lita memperkirakan hasil akhirnya berada di kisaran 40 persen dari berat gabah yang dipanen.
Padi yang dipanen merupakan varietas Cibatu yang didatangkan dari Bandung. Varietas tersebut baru pertama kali ditanam di Berau dan bersyukur berhasil dipanem meskipun produktivitasnya tidak sebanyak di Jawa.
"Rata-rata tanam padi sekitar 110 hari, kemarin petani mulai tanam pada bulan Juni dan baru bisa dipanen pada September," katanya.
Diakuinya, hasil 3,5 ton per hektare masih cukup baik untuk kondisi lahan pertanian di Berau. Sebagai pembanding, rata-rata produksi padi di Kalimantan Timur berada di kisaran 5 ton per hektare, sedangkan produktivitas di Berau umumnya berkisar 3-4 ton per hektare. Karakter lahan di Berau tidak sama dengan wilayah sentra pertanian di Pulau Jawa.
Selain itu, DTPHP Berau juga memberikan dukungan kepada kelompok tani berupa bantuan benih padi sebanyak 5 kilogram serta obat pengendali hama.
Sebagai bentuk apresiasi kepada petani yang tetap mampu menghasilkan panen di tengah kondisi musim tanam yang menghadapi keterbatasan air.
Ia berharap hasil panen tersebut dapat menjadi penyemangat bagi petani untuk kembali melakukan penanaman pada musim berikutnya. Lahan yang masih potensial di Tanjung Prengat diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan di Bumi Batiwakkal.
Sebelumnya, Bupati Berau Sri Juniarsih menyampaikan, keberadaan petani tentunya memiliki peran penting dalam menopang kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Berau.
Karena itu, pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada para petani yang dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga ketersediaan pangan.
Ditegaskan, sektor pertanian merupakan salah satu pilar pembangunan daerah. Pemerintah Kabupaten Berau berkomitmen mendorong kemandirian pangan sehingga kebutuhan masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar daerah.
“Kita tidak boleh bergantung pasokan dari luar daerah. Tentu harus mandiri karena potensi kita dengan daerah lain itu sama,” katanya.
Namun, salah satu tantangan yang dihadapi sektor pertanian Berau adalah regenerasi petani. Sebagian besar petani saat ini sudah berusia lanjut, sementara minat generasi muda untuk meneruskan profesi tersebut masih perlu ditingkatkan.
Maka dari itu, keterlibatan generasi muda perlu didorong, terlebih dengan perkembangan teknologi pertanian. Menurutnya, anak muda tidak harus bertani dengan cara manual karena berbagai alat dan teknologi pertanian sudah dapat membantu mempercepat serta mempermudah pekerjaan di lapangan.
Pemkab Berau juga terus melakukan komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur maupun Kementerian Pertanian untuk mendapatkan dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan). Bantuan tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap pekerjaan manual.
“Nantinya anak muda yang ingin bertani tidak harus manual, tapi sudah era modern. Kami terus melakukan komunikasi untuk mendapat bantuan alat pertanian supaya petani tidak manual lagi,” tuturnya. (aja/hmd)
Editor : Nurismi