Siapkan Konsep Event Budaya Terpadu Disbudpar Berau Bidik Peluang Masuk Karisma Event Nusantara

Nurismi • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 08:25 WIB
EVENT BUDAYA: Kreativitas budaya lokal menjadi salah satu kekuatan yang ditampilkan dalam Berau Ethno Carnival 2026. (BERAU POST)
EVENT BUDAYA: Kreativitas budaya lokal menjadi salah satu kekuatan yang ditampilkan dalam Berau Ethno Carnival 2026. (BERAU POST)

BERAU POST – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau mulai menyiapkan konsep event budaya terpadu, sebagai langkah untuk membuka peluang masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN).

Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa mengatakan, untuk bisa masuk dalam KEN diperlukan persiapan yang matang.

Sebuah event tidak hanya dituntut memiliki kemasan yang menarik, tetapi juga harus memenuhi berbagai persyaratan serta standar yang telah ditetapkan.

Karena itu, pihaknya kini mendorong lahirnya event budaya yang memiliki konsep kuat, daya tarik wisata, serta dapat dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan.

Salah satu konsep yang tengah digagas adalah mengintegrasikan berbagai kegiatan budaya yang ada di dua kesultanan di Berau, yakni Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung.

Kedua, kekuatan budaya tersebut dinilai dapat disatukan dalam sebuah rangkaian event yang lebih besar dengan konsep dan alur yang jelas. 

“Makanya momentum hari jadi kemarin saya sampaikan agar kegiatan dari dua kesultanan bisa kami satukan dalam sebuah rangkaian yang jelas,” ujar Yudha.

Menurutnya, masing-masing kesultanan dapat menampilkan karakter dan kekuatan budaya yang berbeda.

Kesultanan Gunung Tabur dapat mengangkat agenda sesuai dengan kekhasan wilayahnya, sedangkan Kesultanan Sambaliung dapat menghadirkan atraksi budaya dengan karakter tersendiri. 

Rangkaian tersebut kemudian dapat diperkuat dengan kegiatan pendukung dari wilayah lain di Kabupaten Berau. Dengan begitu, event yang dihasilkan tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi satu kalender kegiatan budaya yang memiliki identitas dan daya tarik tersendiri.

Lanjutnya, konsep tersebut perlu dikemas secara profesional. Sebab, event yang ingin dikembangkan sebagai daya tarik wisata tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan seremonial tahunan. 

“Kalau mau menghasilkan event yang matang, kami tidak bisa hanya mengandalkan dinas. Harus ada kolaborasi dan penanganan secara profesional, termasuk melibatkan koreografer maupun tenaga pendamping,” jelasnya.

Ia menambahkan, konsistensi menjadi salah satu kunci dalam membangun sebuah event. Kegiatan yang digelar secara berkelanjutan dapat terus dievaluasi dan dikembangkan hingga memiliki bentuk serta identitas yang semakin kuat. 

Karena itu, Disbudpar Berau akan mendorong adanya kesepakatan bersama mengenai konsep budaya yang akan diangkat. Setelah konsep tersebut terbentuk, kolaborasi lintas sektor dapat dilakukan untuk mematangkan pelaksanaan hingga promosi event. 

“Yang paling penting sekarang adalah kesepakatan dulu tentang apa yang mau kami tampilkan. Setelah konsepnya jelas, baru kami dorong bersama melalui kolaborasi lintas sektor,” pungkasnya. (aky/adv/arp) 

 

Editor : Nurismi
Disbudpar Berau event budaya