Angkat Keindahan Bahari Kepulauan Derawan dan Maratua Motif Batik Khas Berau Pikat Pasar Nasional

Nurismi • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 18:45 WIB
TARIAN BABADA: Dalam event Pemilihan ke-11 Putra Putri Batik Nusantara 2026 garapan IPBN, Tarian Bajau Banua Dayak mengguncang panggung acara dan memesona para penonton di Aula Trans Studio Cibubur, Bogor, Minggu (28/9). (SENO/BP)
TARIAN BABADA: Dalam event Pemilihan ke-11 Putra Putri Batik Nusantara 2026 garapan IPBN, Tarian Bajau Banua Dayak mengguncang panggung acara dan memesona para penonton di Aula Trans Studio Cibubur, Bogor, Minggu (28/9). (SENO/BP)

BERAU POST – Kekayaan alam Kabupaten Berau, khususnya Kepulauan Derawan dan Maratua mendapat ruang untuk semakin dikenal melalui pengembangan produk wastra.

Tahun ini, keindahan Derawan-Maratua diangkat sebagai tema dalam karya batik yang dipromosikan di tingkat nasional.

Bupati Berau, Sri Juniarsih, mengatakan, pemilihan tema tersebut diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari pengembangan produk kerajinan, tetapi juga memberikan dampak terhadap promosi daerah. Kekayaan alam Berau dinilai memiliki potensi besar untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.

“Harapan kami, tema Derawan-Maratua ini berdampak bagi Berau,” ujarnya Minggu (28/9).

Menurutnya, pengangkatan ikon wisata Berau dalam produk batik menjadi salah satu bentuk promosi yang dapat mempertemukan kekayaan budaya dan potensi pariwisata daerah.

Melalui karya wastra, keindahan alam Berau dapat diperkenalkan dalam bentuk yang berbeda, dan menjangkau masyarakat di luar daerah.

Sri Juniarsih menyebut, pemilihan Maratua sebagai salah satu bagian dari tema juga memiliki alasan kuat. Salah satunya keberadaan Spot Schooling Barracuda yang menjadi daya tarik tersendiri di perairan Maratua.

Di lokasi tersebut, wisatawan dapat menyaksikan ratusan hingga ribuan ikan barakuda berenang secara berkelompok, membentuk gerakan melingkar yang dinilai memiliki keindahan tersendiri. “Schooling barracuda itu sangat menawan,” katanya.

Selain itu, Maratua juga memiliki Danau Kakaban dengan populasi ubur-ubur yang tidak menyengat. Keberadaan ekosistem tersebut merupakan hasil proses evolusi yang berlangsung selama ribuan tahun, kini menjadi salah satu kekayaan alam yang memiliki keunikan tersendiri.

Menurut Sri Juniarsih, keberadaan danau dengan ubur-ubur tidak menyengat juga menjadi salah satu daya tarik, yang membuat kawasan Maratua memiliki nilai penting dalam pengembangan pariwisata.

Karena itu, dirinya menyampaikan apresiasi kepada pihak yang telah mengangkat Derawan-Maratua sebagai tema dalam pengembangan wastra. Baginya, hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Berau.

“Kami berterima kasih karena Derawan-Maratua diangkat menjadi tema,” tuturnya.

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, Eva Yunita, turut menyambut positif pengangkatan tema tersebut.

Menurutnya, penggunaan ikon Derawan-Maratua dalam produk batik menjadi salah satu langkah untuk menasionalisasikan potensi daerah melalui karya para pengrajin.

“Ini tentu menjadi kebanggaan bagi kita di Berau,” katanya.

Eva menilai pengenalan Derawan-Maratua melalui produk batik juga memberikan ruang bagi pengrajin lokal untuk mengembangkan kreativitas. Kekayaan alam daerah dapat menjadi inspirasi dalam menghasilkan motif yang memiliki identitas dan nilai jual.

Ia berharap pengangkatan tema tersebut dapat menjadi penyemangat bagi para pengrajin di daerah untuk terus mengembangkan produk wastra Berau. Menurutnya, potensi yang dapat dituangkan dalam motif batik tidak hanya terbatas pada Derawan dan Maratua.

“Kekayaan wastra bisa dibangun dari kekayaan alam kita,” ujarnya.

Eva menambahkan, berbagai destinasi wisata, bentang alam, hingga kawasan hutan yang dimiliki Berau juga dapat menjadi sumber inspirasi untuk pengembangan motif wastra.

Dengan demikian, produk kerajinan tidak hanya menjadi komoditas ekonomi, tetapi sekaligus media untuk memperkenalkan identitas dan kekayaan daerah kepada pasar yang lebih luas. (adv/sen/sam)

Editor : Nurismi
batik pemkab berau wisata bahari