BERAU POST — Komoditas kakao menjadi salah satu sektor perkebunan yang terus berkembang ke arah positif di Kabupaten Berau. Tercatat, sudah puluhan ton kakao asal Berau menembus sejumlah pasar internasional.
Bupati Berau, Sri Juniarsih, mengatakan, sepanjang 2023 hingga 2025, sebanyak 23 ton biji kakao telah diekspor ke Amerika Serikat, Belanda, dan Prancis.
Capaian tersebut kembali berlanjut pada 2026. Hingga tahun ini, Berau telah mengekspor sekitar 11,5 ton biji kakao ke Prancis dan Swiss.
Dijelaskan, permintaan dari pasar internasional menunjukkan adanya minat terhadap kakao yang dihasilkan petani Berau. Apalagi kakao Berau memiliki karakter cita rasa yang khas, dengan perpaduan rasa pahit dan asam segar.
“Toatal sudah 34,5 ton yang berhasil di ekspor. Hal ini menunjukkan minat luar biasa dari pasar dunia terhadap kualitas kakao Berau sebagai kakao terbaik di Indonesia,” katanya kemarin (16/9).
Ditambahkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan Berau, Hendratno, Berau kembali menembus pasar internasional melalui ekspor produk olahan kakao. Tahun ini sebanyak 1,5 ton cacao nibs asal Berau dikirim ke Swiss melalui Terminal Kargo Bandara Kalimarau.
Ekspor tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemasaran komoditas kakao, sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan masyarakat.
Pengiriman dalam bentuk cacao nibs menunjukkan bahwa kakao Berau mulai dikembangkan tidak hanya sebagai bahan baku, tetapi juga dalam bentuk produk olahan.
“Adapun biji kakao kering fermentasi asal Berau telah memenuhi standar mutu dan memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum,” ucapnya.
Sertifikasi tersebut menjadi modal memperluas pemasaran kakao Berau, baik di dalam negeri maupun ke pasar global.
Di sisi lain, permintaan terhadap kakao masih terbuka lebar. Namun, kebutuhan pasar belum seluruhnya dapat dipenuhi seiring menurunnya luas areal tanam dan produktivitas kakao di Berau.
“Kegiatan ekspor kakao tersebut semoga dapat memberikan semangat bagi pelaku usaha untuk meningkatkan luasan areal tanam kakao dengan produktivitas yang tinggi,” ungkapnya.
Ia berharap ekspor tersebut dapat mendorong petani dan pelaku usaha kakao untuk meningkatkan produksi.
Terlebih pasar internasional saat ini tidak hanya mempertimbangkan kualitas dan kuantitas produk, tetapi juga proses produksi yang diterapkan.
Karena itu, peningkatan produksi perlu diikuti dengan penerapan praktik perkebunan yang berkelanjutan, mulai dari budidaya dan pemeliharaan tanaman hingga pengolahan hasil panen. (adv/aja/sam)
Editor : Nurismi