Terapkan Sistem Agroforestri, Dinas Perkebunan Berau Ubah Fokus Pengembangan Komoditas Kakao

Nurismi • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 13:31 WIB
KEMBANGKAN KAKAO: Disbub Berau mendorong pengembangan kakao dengan sistem agroforestri untuk menjaga produktivitas lahan sekaligus membuka sumber pendapatan lain bagi petani. (BERAU POST)
KEMBANGKAN KAKAO: Disbub Berau mendorong pengembangan kakao dengan sistem agroforestri untuk menjaga produktivitas lahan sekaligus membuka sumber pendapatan lain bagi petani. (BERAU POST)

BERAU POST - Dinas Perkebunan Kabupaten Berau mulai mengubah pendekatan dalam mengembangkan kakao. Yang awalnya untuk meningkatkan produksi, kini berfokus pada cara budidaya yang dapat menjaga kondisi lahan dan memberi ruang bagi petani untuk memiliki sumber pendapatan lain.

Plt Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Berau, Hendratno, mengatakan, Disbun Berau tidak lagi semata-mata mengejar peningkatan jumlah produksi, tetapi mendorong pola budidaya yang dapat menjaga produktivitas kebun dalam jangka panjang.

Salah satu pendekatan yang diperkuat adalah sistem agroforestri. Dalam pola tersebut, tanaman kakao tidak dibudidayakan secara tunggal, melainkan ditanam berdampingan dengan jenis tanaman lain dalam satu kawasan.

“Sistem ini dinilai dapat membantu menciptakan kondisi kebun yang lebih beragam, sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap satu komoditas,” terangnya belum lama ini.

Adapun penguatan kapasitas petani juga disasar dalam pengembangan kakao berkelanjutan. Petani perlu memiliki kemampuan mengelola kebun dengan cara yang tepat, agar peningkatan produksi tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga kondisi lingkungan.

Apalagi peluang pasar kakao di Berau masih terbuka. Namun peluang tersebut perlu diikuti dengan penerapan teknik budidaya yang baik.

Peningkatan produksi tidak cukup hanya dilakukan dengan menambah hasil panen, tetapi juga harus ditopang oleh pengelolaan dan pemeliharaan tanaman secara tepat.

“Karena itu, pendampingan kepada petani harus dilakukan untuk penerapan sistem agroforestri ini,” ujarnya.

Pihaknya juga telah mendapatkan bimbingan secara berkelanjutan pada sejumlah kampung terkait budidaya modern dapat diterapkan dalam pengelolaan kebun sehari-hari.

Pendekatan tersebut juga tidak hanya melibatkan petani. Pemerintah kampung, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), serta petugas SIGAP turut dilibatkan dalam pelaksanaannya.

“Untuk memastikan penerapan agroforestri dapat berlangsung secara konsisten di tingkat petani,” paparnya.

Dirinya menilai sistem agroforestri memiliki manfaat lain karena memungkinkan petani mengembangkan lebih dari satu sumber pendapatan.

Tanaman lain yang dibudidayakan bersama kakao dapat menjadi alternatif bagi masyarakat di kampung, sehingga penghasilan petani tidak sepenuhnya bergantung pada satu komoditas.

Pengelolaan lahan yang lebih bagus dengan menyesuaikan kondisi setempat, diharapkan dapat mendukung keberlangsungan tanaman kakao.

Di sisi lain, pihaknya juga menekankan pentingnya kemandirian petani dalam menjalankan pengelolaan kebun di tingkat tapak.

Ke depan, pengembangan kakao di Berau diharapkan tidak hanya untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas unggulan di Bumi Batiwakkal tersebut, tetapi juga mempertahankan daya dukung lahan.

“Kakao diharapkan dapat berkembang sebagai salah satu komoditas yang memperkuat ekonomi masyarakat pedesaan tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan,” harapnya.

Sebelumnya, produk unggulan daerah berupa cokelat olahan khas Berau kembali mencuri perhatian setelah mendapatkan sambutan positif dari pemerintah pusat yang turut menyoroti potensi besar komoditas cokelat dari Kabupaten Berau.

Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita, pihaknya menilai perhatian tersebut menjadi titik penting dalam mendorong penguatan industri olahan kakao lokal.

Bukan hanya soal pengakuan, tetapi juga membuka ruang lebih luas bagi pengembangan pasar yang lebih kompetitif di tingkat regional hingga nasional.

Meningkatnya atensi terhadap produk cokelat Berau harus dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha.

Menurutnya, branding yang mulai terbentuk saat ini perlu diikuti dengan kesiapan produksi yang lebih solid agar tidak terjadi ketimpangan antara permintaan dan ketersediaan barang.

Ia menegaskan, penguatan sektor hulu dan hilir menjadi fokus utama pemerintah daerah dalam mendukung keberlanjutan UMKM dan industri kecil menengah, khususnya yang bergerak di sektor pengolahan kakao.

“Respons positif terhadap Cokelat Berau ini menjadi sinyal yang sangat baik. Artinya, produk kita sudah mulai dilihat secara lebih luas. Tinggal bagaimana kita menjaga momentum ini agar tidak berhenti di branding saja,” ujarnya, belum lama ini.

Adapun tantangan yang kini dihadapi bukan lagi sekadar promosi produk, melainkan kesiapan kapasitas produksi.

Jika permintaan meningkat akibat semakin dikenalnya produk lokal, maka pelaku usaha harus mampu menjawabnya dengan peningkatan volume dan kualitas yang konsisten. (adv/aja/sam)

Editor : Nurismi
kakao Dinas Perkebunan Berau