Dorong Kemandirian Ekonomi Lokal, DPMK Berau Intensif Dampingi Pengembangan Produk Unggulan Desa

Nurismi • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 11:25 WIB
Kepala DPMK Berau, Tentram Rahayu. (BERAU POST)
Kepala DPMK Berau, Tentram Rahayu. (BERAU POST)

BERAU POST - Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Berau terus mendampingi pemerintah kampung mengembangkan Produk Unggulan Desa (Prudes), sebagai bagian dari upaya mendorong kemandirian dan penguatan ekonomi masyarakat.

Kepala DPMK Berau, Tenteram Rahayu mengatakan, pengembangan Prudes diarahkan agar setiap kampung memiliki produk yang menjadi ciri khas sekaligus sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Konsep tersebut mendorong kampung untuk mengembangkan produk secara tematik dan tidak sekadar menghasilkan berbagai komoditas tanpa fokus yang jelas.

"Kami masih mendampingi kampung dalam mengembangkan Produk Unggulan Desa. Kampung itu harus tematik,” ujarnya.

Menurut Tenteram, Prudes berbeda dengan produk unggulan daerah yang telah ditetapkan Kabupaten Berau. Saat ini, terdapat tiga komoditas yang menjadi unggulan daerah, yakni jagung, cokelat, dan kelapa dalam.

Sementara dalam pengembangan Prudes, setiap kampung diarahkan memilih salah satu produk yang paling sesuai dengan potensi lokal untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Pendekatan tersebut kemudian melahirkan sejumlah kampung dengan identitas produk tertentu.

“Makanya kita sering dengar ada Kampung Nila atau Kampung Jagung, atau Bohe Silian Kampung Kerapu,” jelasnya.

Lanjut Tenteram, pengembangan kampung tematik tidak dapat dilakukan hanya oleh DPMK. Dukungan dari organisasi perangkat daerah (OPD) lain diperlukan, terutama karena masing-masing memiliki program dan keahlian yang dapat mendukung pengembangan produk di kampung.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor selama ini telah berjalan cukup baik. Salah satunya melalui dukungan Dinas Perikanan (Diskan) dalam memberikan bantuan yang berkaitan dengan pengembangan produk perikanan masyarakat.

Ia mencontohkan bantuan ikan asap yang diberikan kepada masyarakat sebagai salah satu bentuk dukungan OPD terhadap pengembangan potensi kampung. Bantuan tersebut kemudian perlu diikuti pendampingan agar manfaat program dapat terus berkembang.

“Misalnya bantuan ikan asap dari Diskan, dan pendampingan lanjutan itu dari Sigap agar program bantuan tetap optimal,” katanya.

Pendampingan lanjutan dinilai penting untuk memastikan bantuan yang diberikan tidak berhenti pada penyerahan sarana maupun produk, tetapi dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.

Tenteram menegaskan, DPMK akan terus membuka ruang kolaborasi dengan instansi lain dalam mengembangkan Prudes. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk unggulan masing-masing kampung.

Dengan pengembangan berbasis potensi lokal dan konsep tematik, setiap kampung diharapkan memiliki produk yang mampu menjadi identitas sekaligus sumber penghasilan masyarakat.

Pemerintah juga terus mendorong agar potensi tersebut dapat dikembangkan secara konsisten melalui pendampingan dan kerja sama lintas sektor.

“Kolaborasi dengan instansi lain tetap kami lakukan agar program di kampung bisa berjalan optimal,” pungkasnya. (adv/sen/arp) 

 

Editor : Nurismi
DPMK Berau pengembangan